SELEKSI PASKIBRAKA – Perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika, mendampingi Nikolaus Timakonama, calon Paskibraka 2026 di Hotel Grand Tembaga, Jumat (10/7/2026). (FOTO: MEGA/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Langkah Kabupaten Mimika untuk kembali menempatkan putra daerah sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional tahun 2026 memang belum membuahkan hasil.
Namun, kegagalan tersebut tidak dipandang sebagai akhir dari perjuangan.
Sebaliknya, Pemerintah Kabupaten Mimika menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk membangun sistem pembinaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Di balik hasil seleksi tahun ini, tersimpan cerita tentang potensi generasi muda Mimika yang semakin mampu bersaing di tingkat nasional.
Salah satunya adalah Nikolaus Timakonama, yang berhasil menembus tahapan seleksi nasional setelah melewati proses seleksi di tingkat kabupaten dan Provinsi Papua Tengah.
Tinggal selangkah menuju Istana, Nikolaus terhenti masuk dalam formasi utama Paskibraka Nasional.
Pencapaian tersebut menjadi sinyal bahwa kualitas putra-putri Mimika terus mengalami peningkatan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika, Yulius Koga, mengatakan dari 11 peserta yang dikirim mengikuti seleksi, enam orang dari Papua Tengah berhasil lolos ke tahapan berikutnya, dan satu di antaranya berasal dari Mimika.
“Dari Mimika kita kirim 11 orang mengikuti seleksi. Dari Papua Tengah yang lolos ada enam orang dan satu di antaranya berasal dari Timika,” ujar Yulius kepada Timika eXpress.id di Hotel Grand Tembaga, Jumat (10/7/2026).
Nyaris Menggapai Tingkat Nasional
Perjalanan Nikolaus menjadi salah satu kisah yang cukup membanggakan.
Ia mampu bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia hingga tahap akhir seleksi nasional.
Namun pada penentuan akhir, namanya belum masuk dalam daftar utama Paskibraka Nasional.
Meski demikian, kesempatan untuk mengabdi tetap terbuka.
Nikolaus kini dipercaya menjadi anggota cadangan Paskibraka Provinsi Papua Tengah dan akan bertugas dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan tingkat provinsi.
“Yang sangat kami sayangkan, di tingkat nasional dia gugur. Jadi dia kembali dan akan masuk dalam formasi provinsi. Statusnya sekarang sebagai cadangan di tingkat provinsi sehingga tetap akan bertugas pada upacara tingkat provinsi,” jelas Yulius.
Menurutnya, capaian tersebut tetap layak diapresiasi karena membuktikan peserta asal Mimika mampu menembus persaingan hingga level tertinggi.
Evaluasi Menyeluruh Pola Pembinaan
Bakesbangpol Mimika tidak hanya melihat hasil akhir seleksi, tetapi juga mengevaluasi seluruh proses pembinaan calon Paskibraka.
Beberapa peserta lainnya diketahui harus terhenti di tingkat provinsi.
Kondisi ini menjadi bahan introspeksi untuk memperkuat pola pelatihan, pembinaan mental, fisik, hingga kesiapan menghadapi seleksi nasional.
“Ada juga yang gugur di tingkat provinsi. Tetapi ini menjadi evaluasi bagi kami untuk mempersiapkan anak-anak lebih baik lagi ke depan,” katanya.
Yulius menegaskan pembinaan tidak boleh berhenti hanya karena hasil tahun ini belum sesuai harapan.
Ia meyakini Mimika memiliki banyak generasi muda yang mampu bersaing apabila dipersiapkan lebih matang sejak dini.
“Saya berpikir nanti tahun depan kita coba lagi. Saya sangat optimistis dengan kemampuan anak-anak kita di Mimika,” ujarnya.
Seleksi Digital Jadi Tantangan Baru
Selain aspek pembinaan, Bakesbangpol juga menyoroti mekanisme pendaftaran Paskibraka yang kini sepenuhnya dilakukan secara daring.
Digitalisasi sistem seleksi memang memberikan kemudahan, namun di sisi lain menghadirkan tantangan baru bagi sebagian peserta, terutama mereka yang berasal dari wilayah dengan keterbatasan akses internet.
Menurut Yulius, proses pendaftaran secara online memerlukan kemampuan mengunggah dokumen, memindai barcode, hingga memastikan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi dengan baik.
“Saya mendapat evaluasi bahwa mungkin tidak semua orang bisa mendaftar secara online, mulai dari unggah berkas, pemindaian barcode, hingga kebutuhan kuota internet. Hal-hal seperti ini juga akan menjadi perhatian kami untuk perbaikan ke depan,” ungkapnya.
Bakesbangpol berencana meningkatkan pendampingan selama proses pendaftaran agar tidak ada peserta yang kehilangan kesempatan hanya karena kendala teknis.
Membangun Generasi Pemimpin Masa Depan
Bagi Pemerintah Kabupaten Mimika, Paskibraka bukan sekadar ajang seleksi pengibar bendera.
Program ini dipandang sebagai proses pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan, nasionalisme, dan tanggung jawab generasi muda.
Karena itu, pembinaan akan terus diperkuat agar semakin banyak putra-putri Mimika mampu tampil di tingkat provinsi maupun nasional.
Kegagalan tahun ini menjadi pengingat bahwa prestasi tidak lahir secara instan.
Dibutuhkan pembinaan yang konsisten, dukungan semua pihak, serta semangat pantang menyerah dari para peserta.
Dengan evaluasi yang dilakukan saat ini, Pemerintah Kabupaten Mimika optimistis peluang mengirim wakil ke Paskibraka Nasional pada tahun mendatang akan semakin terbuka.
Seperti pesan yang terus ditanamkan kepada para peserta, gagal bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menjadi lebih kuat dan terus mengejar mimpi. (*)
Penulis: Mega Irianti
Editor: Maurits SDP















Tinggalkan Balasan