MENJELASKAN – Statistisi Ahli Muda, Barbara C.T. Barends, menjelaskan perkembangan inflasi Kabupaten Mimika. (FOTO:YUDITH/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Kabupaten Mimika mencatat capaian positif dalam pengendalian inflasi pada Mei 2026.

Tingkat inflasi daerah ini tercatat sebesar 2,18 persen, lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain di Papua Tengah, termasuk Kabupaten Nabire.

Angka tersebut dinilai cukup baik mengingat sebelumnya inflasi Mimika sempat berada di atas 4 persen.

Kondisi ini menunjukkan upaya pengendalian harga kebutuhan masyarakat masih berjalan efektif meski dihadapkan pada berbagai tantangan distribusi dan pasokan barang.

Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang inflasi pada Mei lalu antara lain emas perhiasan, sabun mandi, sabun cair, popok bayi, dan pembalut wanita.

Sementara memasuki Juni 2026, tekanan inflasi mulai dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat, fluktuasi harga minyak goreng, serta berkurangnya pasokan ikan akibat faktor cuaca.

Harga tiket angkutan udara dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat dibanding tarif normal.

Di sisi lain, harga minyak goreng merek tertentu juga mengalami perubahan karena sebagian besar pasokannya didatangkan dari Surabaya, sehingga sulit untuk dilakukan intervensi harga secara langsung di daerah.

Selain itu, pasokan ikan sebagai salah satu kebutuhan pangan utama masyarakat Mimika mulai berkurang.

Cuaca yang kurang bersahabat membuat aktivitas nelayan terbatas sehingga ketersediaan ikan di pasar bergantung pada kiriman dari luar daerah.

Jika distribusi terlambat, harga ikan berpotensi mengalami kenaikan signifikan.

Statistisi Ahli Muda, Barbara C.T. Barends, mengatakan inflasi Mimika masih berada pada level yang cukup terkendali dibandingkan periode sebelumnya maupun daerah lain di Papua Tengah.

“Inflasi Kabupaten Mimika yang kami rilis untuk bulan Mei sebesar 2,18 persen. Angka ini lumayan bagus, mengingat sebelumnya mencapai lebih dari 4 persen. Memasuki Juni, yang memengaruhi adalah tiket pesawat yang naik dua kali lipat dan harga minyak goreng yang berfluktuasi. Barang seperti ini dikirim dari Surabaya sehingga agak sulit kami intervensi. Selain itu, pasokan ikan juga berkurang karena cuaca, jadi kalau kiriman lambat harganya langsung melonjak,”* ujarnya.

Barbara menambahkan, jika dibandingkan dengan kota lain di Papua Tengah, khususnya Nabire, tingkat inflasi Mimika masih lebih rendah.

Kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga di Mimika relatif lebih terjaga meskipun terdapat tekanan dari faktor eksternal seperti biaya transportasi dan cuaca.

Meski inflasi secara umum masih terkendali, pemerintah daerah diharapkan terus memantau perkembangan harga dan distribusi barang kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tetap terjaga serta aktivitas ekonomi dapat berjalan normal. (*)

Penulis: Yudith Sanggu
Editor: Maurits SDP