FOTO BERSAMA – Bupati Mimika Johannes Rettob, didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong, foto bersama Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Timika, Yudi Amrullah, dan Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Anton Panji Mahendra, usai ekspor perdana kepiting bakau dari Timika ke pasar global, Rabu (13/5/2026). (FOTO:MEGA IRIANTI)

MIMIKA, TimikaeXpress.id – Komoditas kepiting bakau hidup asal Kabupaten Mimika berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor ke Malaysia dan Singapura.

Hingga Mei 2026, nilai devisa ekspor daerah tercatat mencapai sekitar Rp1,059 miliar dengan volume ekspor sekitar 24 ton.

Ekspor perdana UMKM berorientasi ekspor tahun 2026 tersebut dilepas di Kantor UPBU Mozes Kilangin Timika, Rabu (13/5/2026), oleh Bea Cukai Timika bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Timika, Yudi Amrullah mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa produk unggulan Mimika mampu bersaing di pasar global.

“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa produk daerah Mimika mampu bersaing di pasar internasional. Potensi sektor perikanan dan hasil laut kita sangat besar dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian,” ujarnya.

Menurut Yudi, selain menjalankan fungsi pengawasan kepabeanan dan cukai, Bea Cukai juga berperan sebagai trade facilitator dan industrial assistance untuk mendukung pertumbuhan industri dan UMKM hingga mampu berkembang ke pasar ekspor.

Ia menjelaskan, sepanjang tahun 2025 total devisa ekspor sumber daya alam melalui Mimika mencapai sekitar Rp1,29 miliar dengan volume ekspor 21,5 ton. Sementara hingga Mei 2026, capaian devisa ekspor hampir menyamai total capaian tahun sebelumnya.

“Artinya capaian tahun ini hampir menyamai total capaian sepanjang tahun 2025,” katanya.

Yudi menambahkan, komoditas utama ekspor tahun 2026 didominasi kepiting bakau hidup dengan jumlah dokumen ekspor atau Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) sebanyak 30 dokumen.

Negara tujuan ekspor masih didominasi Malaysia dan Singapura, namun peluang perluasan pasar ke negara lain masih terbuka lebar.

Ia juga mengapresiasi dukungan seluruh pihak, termasuk Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah serta pihak Bandara Mozes Kilangin Timika yang turut mendukung kelancaran ekspor UMKM tersebut.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal peningkatan ekspor daerah Kabupaten Mimika. Potensi Mimika sangat besar dan harus didorong bersama agar semakin banyak produk unggulan daerah mampu menembus pasar internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Anton Panji Mahendra mengatakan pihaknya akan terus mendorong pelaku usaha agar terdaftar di General Administration of Customs of China (GACC) sehingga akses pasar ekspor semakin luas dan tidak hanya bergantung pada Singapura.

Menurutnya, ekspor kepiting bakau ini menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat Mimika di pasar global. Karena itu, kualitas dan kontinuitas produk harus terus dijaga dengan tetap mematuhi standar karantina dan regulasi internasional.

“Selain meningkatkan nilai ekspor, kita juga harus menjaga kualitas dan keberlanjutan produk daerah tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal,” ujarnya.

Anton berharap keberhasilan ekspor perdana tersebut dapat menjadi motivasi bagi UMKM lain di Mimika agar semakin banyak produk lokal yang mampu menembus pasar internasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)

Penulis: Mega Irianti
Editor: Maurits SDP