LATIHAN – Salah seorang peserta Apprentice Hospitality melakukan Latihan pemasangan alas tempat tidur (bad
making) didampingi instruktur dari PT PUMS sebelum terjun langsung sebagai petugas perhotelan (Camp Attentend). (FOTO:CORPCOM FREEPORT)
MIMIKA, timikaexpress.id – Sebanyak delapan pemuda Orang Asli Papua (OAP) dari Kampung Ayuka dan Kampung Tipuka, wilayah pesisir Kabupaten Mimika, dinyatakan lulus dari Program Apprentice Hospitality angkatan pertama pada Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) dan siap bekerja di industri perhotelan serta hospitality.
Kelulusan peserta diumumkan dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), LIP Kuala Kencana, Timika.
Salah satu peserta pelatihan, Lukas Taote, mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan tersebut.
“Kami jadi punya harapan baru setelah belajar bagaimana memberikan pelayanan secara profesional yang sebelumnya belum pernah kami dapatkan di bidang hospitality. Saya merasa jauh lebih percaya diri untuk masuk ke dunia kerja di industri perhotelan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama mengikuti pelatihan selama 3,5 bulan, para peserta dibekali keterampilan pelayanan profesional, pengetahuan dasar hospitality, hingga pembentukan sikap kerja yang baik dalam melayani pelanggan.
Peserta juga mendapatkan pelatihan teknis sebagai petugas pelayanan hotel, camp attendant, hingga mess attendant yang dibutuhkan dalam industri hospitality di Timika.
Senior Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Nathan Kum, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Papua, khususnya generasi muda yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas SDM Papua di area sekitar operasi Freeport. Saat ini anak-anak muda pesisir juga telah bersiap untuk mengikuti pelatihan tahap kedua dan seluruh program ini tidak dipungut biaya,” katanya.
Nathan menjelaskan, peserta tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga praktik lapangan hingga dipersiapkan untuk siap memasuki dunia kerja.
Sementara itu, Kepala Kampung Tipuka, Paulus Polce Muka, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut dan mengaku bangga atas capaian delapan pemuda dari kampungnya yang berhasil menyelesaikan program pelatihan.
“Terima kasih atas pelatihan intensif dan kepercayaan yang diberikan kepada anak-anak kami. Semoga mereka semakin percaya diri, memperoleh pekerjaan, dan terus mendapatkan perhatian sehingga dapat meraih keberhasilan,” ujarnya.
Ia berharap para pemuda di wilayah pesisir Mimika dapat memanfaatkan kesempatan pelatihan tersebut dengan baik sehingga mampu bekerja secara profesional, tidak hanya di sektor pertambangan tetapi juga di industri lainnya.
Diketahui, Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) merupakan lembaga pelatihan kerja yang didirikan oleh PT Freeport Indonesia sebagai bagian dari investasi sosial perusahaan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal agar lebih kompetitif dan siap kerja.
IPN memiliki dua program pelatihan utama, yakni pelatihan teknis dan non teknis. Untuk pelatihan teknis tersedia sejumlah jurusan seperti mekanik alat berat, pengelasan, electrician, mekanik pabrik, operator pabrik, operator alat berat, hingga pekerja tambang bawah tanah.
Sementara pelatihan non teknis baru dimulai pada tahun 2026 melalui Program Hospitality yang berfokus pada pengembangan keterampilan layanan guna mendukung operasional perhotelan, katering, dan fasilitas akomodasi di lingkungan perusahaan maupun industri pendukung lainnya. (*)









Tinggalkan Balasan