TIMIKA, timikaexpress.id — Pastor Gabriel Ngga, OFM, mengajak umat Katolik menjadikan perayaan Minggu Palma sebagai momentum untuk menghadirkan perdamaian di Tanah Papua.
Seruan itu disampaikan dalam homili Misa Minggu Palma di Gereja St. Stefanus Sempan, Timika, Minggu (29/3/2026), yang diikuti ribuan umat.
Dalam khotbahnya, Pastor Gabriel menyoroti kontras peristiwa Minggu Palma, ketika orang-orang yang menyambut Yesus dengan sukacita justru kemudian turut menyalibkan-Nya.
“Kenyataan itu menjadi gambaran hidup kita saat ini. Tindakan, perkataan, dan perbuatan sering tidak sejalan dengan apa yang kita imani,” ujarnya.
Ia menegaskan, dalam kisah sengsara, Yesus tetap setia kepada Bapa-Nya dan tidak membalas penindasan yang dialami.
Nilai tersebut, menurut dia, relevan dengan situasi saat ini, baik secara global maupun di Papua, khususnya di Timika.
Pastor Gabriel juga mengingatkan pesan rekonsiliasi dan perdamaian, sebagaimana kisah murid Yesus yang diminta untuk menyarungkan pedangnya.
“Damai di Papua hanya bisa terwujud jika kita memaknai spiritualitas hidup Kristus,” katanya.
Ia menambahkan, penderitaan yang dialami manusia bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan iman yang membawa harapan akan kebangkitan.
“Misi Kristus tidak pernah meninggalkan kita. Ia hadir dalam setiap penderitaan dan berjalan bersama kita memanggul salib,” ujarnya.
Menurut dia, simbol daun palma bukan sekadar ritus, tetapi juga wujud iman di tengah pergumulan hidup.
Karena itu, umat diajak menolak kekerasan, meningkatkan solidaritas, serta setia pada nilai kebenaran.
Perayaan Minggu Palma ini sekaligus menandai dimulainya Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik menjelang Hari Raya Paskah. (vis)















Tinggalkan Balasan