TIMIKA, timikaexpress.id – Abraham Kateyau tak pernah lupa hari ketika ayahnya melepasnya merantau.
Di saku celananya hanya terselip Rp14 ribu.
Tak banyak, bahkan nyaris tak cukup untuk memulai perjalanan panjang.
Namun pesan sang ayah jauh lebih berharga dari uang itu.
“Pergi sekolah. Jangan pulang sebelum selesai.”
Pesan sederhana itu menjadi kompas hidupnya.
Hari ini, pria kelahiran Jayapura, 13 April 1972 tersebut berdiri sebagai pejabat publik.
Bram sapaan akrabnya menjadi orang Kamoro pertama sebagai Penjabat Sekda Mimika pascadilantik oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, 15 Agustus 2025.
Tapi jalan menuju titik itu bukanlah jalan lurus tanpa rintangan.
Ia pernah berhenti sekolah karena ketiadaan biaya.
Pernah bekerja kasar di Sorong, Pulau Buru, hingga Seram demi bertahan hidup.
Pernah merasakan getirnya menjadi anak rantau dengan harapan yang kadang terasa lebih besar dari kemampuan.
Namun satu hal tak pernah padam, tekad untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Kepala Sekolah (Kepsek) saat itu, almarhum Edi Raya, langsung menaikkannya ke kelas III, karena Bram merupakan siswa rangking satu.
“Ini semua, kalau bukan karena campur tangan Tuhan, saya tidak mungkin berdiri di sini,” ujarnya pelan, dengan nada syukur yang tulus.
Bram mengawali pendidikan dasar di Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah Kabupaten Mimika.
Kemudian lanjut SMP di Kokonao dan lulus tahun 1989.
Pendidikan SMA dilanjutkan di SMA Katolik Budi Luhur Nabire, dan menjadi siswa angkatan ke-III sekolah itu.
Beasiswa yang Membentuk Karakter
Perjalanan Bram tak bisa dilepaskan dari program beasiswa Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI—Irja), kini Yayasan Pemberdayaan Mayarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Bram menjadi salah satu penerima manfaat sejak awal 2000-an.
Manfaat langsung pendidikan dari beasiswa YPMAK pun telah mengantar 10 pejabat daerah, gubernur, wakil gubernur, bupati-wakil bupati di kursi birokrasi periode 2025-2030.
Baginya, beasiswa itu bukan sekadar bantuan biaya kuliah.
“Bukan hanya pembagian dana studi. Kami dibina iman, karakter, dan kebersamaan. Kami dibentuk menjadi keluarga di tanah rantau,” kenangnya.
Di Jayapura, mahasiswa Kamoro dan Amungme rutin dikumpulkan oleh koordinator wilayah.
Mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga pembinaan rohani dan penguatan mental.
Di tengah keterbatasan, tumbuh solidaritas.
Di tengah kerinduan akan kampung halaman, terbangun rasa persaudaraan.
Bram sempat dipercaya menjadi Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kamoro di Jayapura.
Namun ia memilih mundur demi fokus menyelesaikan studinya, karena baginya, menyelesaikan pendidikan adalah bentuk tanggung jawab.
Ia menamatkan S1 di STIE Ottow Geissler setelah sempat pindah jurusan.
Pendidikan S2 ditempuh di Universitas Cenderawasih (Uncen) melalui kerja sama pemerintah daerah.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi hukum dan baru saja menyelesaikan promosi doktoral (S3) di Universitas Tri Sakti, Jakarta.
“Tekad saya hanya satu, harus selesai.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi fondasi seluruh perjalanan hidupnya.
Ketika Kenyamanan Harus Ditinggalkan
Usai menyelesaikan S1, Abraham langsung dipanggil bekerja di PT Freeport Indonesia tanpa tes.
Saat itu, lulusan S1 dari suku Kamoro masih sangat terbatas.
Ia ditempatkan sebagai staf di bagian Industrial Relations (IR).
Gajinya tergolong besar untuk masa itu, Rp8 juta, kemudian meningkat menjadi Rp12 juta, lengkap dengan fasilitas yang menjanjikan masa depan mapan.
Namun hidup menghadapkan Bram pada pilihan besar.
Ketika memutuskan masuk pemerintahan pada 2001, ia mengajukan pengunduran diri.
Manajemen Freeport bahkan memberinya waktu dua minggu untuk berpikir ulang.
Yang mencengangkan, Bram sempat ditawari bekerja ke New Orleans (Nola), Amerika Serikat dengan fasilitas lengkap.
“Tapi saya berpikir, untuk apa semua fasilitas kalau saya tidak bisa hadir untuk keluarga dan masyarakat saya sendiri?”
Keputusan itu berarti menukar kenyamanan dengan ketidakpastian.
Dari penghasilan dua digit jutaan, ia memulai karier sebagai staf Dinas Sosial dengan gaji awal sekitar Rp3 juta per bulan.
Itu bukan keputusan finansial. Itu keputusan nurani.
Meniti Tangga Pengabdian
Kariernya di birokrasi berjalan perlahan, namun konsisten.
Ia pernah bertugas di Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, menjabat Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana (Ortal) selama kurang lebih delapan tahun, hingga dipercaya memimpin Dinas Kominfo dan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Kini ia dipercaya sebagai Penjabat Sekda sambil menunggu pejabat definitif.
“Apa pun jabatan yang diberikan, itu amanah. Bukan kebanggaan pribadi,” tegasnya.
Baginya, jabatan bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling siap. Sistem harus dihormati. Proses harus dijalani. Integritas harus dijaga.
“Kalau kita sudah siap, Tuhan akan kirim orang untuk membuka jalan.”
“Saya Harus Bisa,” itulah motto sekaligus pegangan hidup dari Bram, sosok low profile nan humble.
Abraham tidak pernah menutupi masa sulitnya.
Ia pernah berhenti sekolah satu tahun karena tak ada biaya. Ia pernah bekerja keras hanya untuk kembali duduk di bangku kelas.
Karena itu, pesannya kepada generasi penerima beasiswa hari ini terdengar tegas sekaligus penuh harapan.
“Bersyukurlah. Zaman kami dulu tidak seperti sekarang. Sekarang biaya ada, uang saku ada. Jangan sampai Drop Out atau DO hanya karena tidak bisa mengatur diri.”
Baginya, kesempatan adalah bagian dari rencana Tuhan. Jika tidak dimanfaatkan, ia bisa berubah menjadi penyesalan.
Moto hidupnya sederhana, “Saya harus bisa”.
“Kita tidak boleh hanya menonton orang lain berhasil. Kita harus mampu memerintah diri sendiri sebelum memimpin orang lain.”
Kolaborasi untuk Masa Depan Papua
Dalam refleksinya tentang pembangunan daerah, Bram menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Freeport, dan YPMAK.
“Kata kuncinya kolaborasi. Kalau kita duduk bersama, dampaknya akan jauh lebih besar.”
Menurutnya, pendidikan saja tidak cukup. Generasi muda harus diberi ruang bertumbuh, baik melalui lapangan kerja maupun penciptaan usaha mandiri.
Pemberdayaan ekonomi kampung menjadi kunci agar kemajuan tidak berhenti di ruang kelas.
“Tujuan kita satu: masyarakat kita harus maju, mandiri, dan sejahtera.”
Akar Keluarga, Kekuatan yang Sunyi
Abraham lahir dari pasangan Paulus Kateyau (alm) dan Hendrika Potereyau.
Ia berdarah Papua asli, terlahir dari rahim perempuan Kamoro dari Kampung Keakwa.
Nilai kerja keras dan tanggung jawab ia pelajari sejak kecil.
Ia memiliki seorang kakak, Teodorus Kateyau, serta beberapa saudara angkat dalam keluarga besar yang tumbuh dalam ikatan adat dan kebersamaan.
Dalam perjalanan panjang kariernya, ada sosok yang selalu berdiri tenang di belakangnya, yaitu istrinya, Bernadeta Natalia, perempuan asal Boven Digoel, Merauke, Papua Selatan.
Mereka dikaruniai enam anak, tiga putra dan tiga putri, termasuk sepasang anak kembar.
“Istri selalu mendukung dalam setiap keputusan besar, dia selalu ada untuk saya,” ujarnya.
Di balik jabatan dan tanggung jawab publik, Abraham tetap seorang ayah dan suami.
Ia percaya, keberhasilan di luar rumah harus berjalan seiring dengan keharmonisan di dalam rumah.
Perjalanan yang Terus Berlanjut
Dari Rp14 ribu di saku.
Dari masa berhenti sekolah.
Dari tawaran kerja luar negeri yang ditinggalkan.
Kisah Abraham Kateyau adalah tentang tekad, iman, dan keberanian memilih jalan pengabdian.
“Jabatan itu sementara. Tapi integritas dan pendidikan melekat seumur hidup.”
Ia menutup wawancara dengan harapan sederhana namun dalam maknanya:
Semoga apa yang dirintis hari ini menjadi berkat bagi generasi yang akan datang. (*)
Penulis : Yudith Sanggu
Editor : Maurits Sadipun








Tinggalkan Balasan