Reynold Ubra (FOTO: GREN/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan Mimika bakal merenovasi sejumlah fasilitas kesehatan di Timika.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra kepada awak media usai rapat di Balai Kampung Tipuka, Distrik Mimika Timur, Mimika-Papua Tengah, Sabtu (15/3) mengatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dan mulai memetakan Faskes yang akan direnovasi.
“Sudah kita identifikasi dan petakan. Salah satunya di Pustu Kampung Tipuka. Selain itu, ada juga rumah sakit yang akan direnovasi yaitu di Rumah Sakit Waa Banti,” ujarnya.
Begitu juga di wilayah pesisir, pihaknya berencana akan ke sana untuk mengidentifikasi Faskes mana yang akan dilakukan renovasi.
“Jadi, semua Faskes itu akan dilakukan rehab ringan saja. Dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka fasilitas publik itu harus bagus,” katanya.
Reynold Ubra menyebutkan bahwa jumlah Puskesmas di Kabupaten Mimika saat ini sekitar 26 unit, yaitu di wilayah pegunungan 5 puskesmas, wilayah kota sebanyak 10 puskesmas dan di pesisir ada 11 puskesmas, sedangkan Pustu sebanyak 42 unit.
Selain itu, salah satu bentuk komitmen Dinas Kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pihaknya juga berencana akan membangun Pondok Bersalin Desa (Polindes).
“Dalam Tahun 2026, kami akan membangun Polindes di samping Pustu. Saat ini kita punya tenaga bidan lebih dari 300 orang. Pelayanan ibu dan anak jika kita lihat sekarang minimal 6 x kunjungan, maka dengan jumlah bidan yang banyak jika hanya Pustu, maka bidan tidak bisa bergerak banyak. Sehingga, fokus kami setiap Pustu harus berdampingan dengan bidan di Polindes,” jelasnya.
Pada setiap Pustu di daerah-daerah strategis akan di upgrade menjadi klinik. Seperti di Pustu Tipuka akan dibuat Poli klinik agar tenaganya mobile.
“Kita lihat masyarakat mengakses yang murah itu sulit. Dan masyarakat memiliki perilaku tunggu penyakit parah baru ke faskes. Kita mencoba dekatin itu. Selain petugas dari rumah ke rumah, kita coba dekatin itu. Karena dari 127 sarana kesehatan di Timika, paling banyak ada di dalam wilayah Kota Timika, sementara wilayah-wilayah lain tidak ada. Kita sebagai penyedia layanan kesehatan harus bisa responsif dan sensitif terkait hal itu,” pungkasnya. (via)









Tinggalkan Balasan