Reynold Ubra (FOTO: YOSEF/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Reynold Ubra, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Mimika menyatakan, pasca insiden pembunuhan pilot berkewarganegraan Selandia Baru, Glen Malcolm Conning di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tentunya berdampak pada pelayanan kesehatan di wilayah setempat.
Pelayaan kesehatan bagi warga di Distrik Alama hingga kini belum maksimal berjalan, menyusul dikembalikannya 8 Tenaga Kesehatan (Nakes) dari Alama ke Timika untuk menjalani trauma healiing pasca pembunuhan pilot PT. Intan Angkasa Air Service pada 5 Agustus 2024.
Terkait hal ini, kata Reynold, pihaknya akan melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan para tokoh masyarakat, tokoh agama di wilayah Alama, Jila, Jita, Tsinga dan Aroanop.
“Rakor dimaksudkan untuk mendengar sekaligus mendapat masukan terkait strategi pelayanan kesehatan bagi warga setempat.
Ia pun meminta para Nakes yang ada di Puskesmas Alama, Jila, Jita, Tsinga, dan Arwanop untuk memperkuat pelayanan di daerah kota, dikarenakan masyarakat di lima Puskesmas wilayah gunung itu kini semua ada di kota Timika.
“Tentu saja hari ini pelayanan di sana (Alama) belum berjalan maksimal. Namun, masyarakat di lima puskesmas wilayah gunung itu kan banyak tinggal di daerah kota. Ada di Jalan Pisang, Kampung Mandiri Jaya, bahkan masyarakat Jila juga banyak di Jalan Petrosea. Itu sebenarnya pendekatan-pendekatan yang kami lakukan,” kata Reynold Ubra saat diwawancarai, Senin (26/8/2024).
Sebelumnya, Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey mengatakan, Puskesmas di Alama rata-rata setiap hari melayani sedikitnya 50 warga.
Menanggapi hal itu, kata Frits kerap ia disapa, menjelaskan data dari tahun 2022/2023, rata-rata jumlah pasien atau warga yang dilayani sebanya 700 orang.
Ini menunjukkan, rata-rata orang berkunjung ke Puskesmas di Alama dalam sehari sekitar 3 sampai 5 orang.
Ini kunjungan warga ke Puskesmas ketika mereka sakit.
“Hemat saya, ini harus menjadi bahan kajian bersama, bukan hanya tenaga kesehatan, tapi ada aktivitas ekonomi, pendidikan, perlindungan perempuan dan anak-anak, bahkan ada hak-hak masyarakat yang harus dilayani. Untuk itu, rencananya di tanggal 2 atau 3 September 2024 kita akan bahas bersama, sehingga seluruh aktivitas masyarakat termasuk pelayanan kesehatan bisa berjalan,” paparnya.
Ia menambahkan, apapun kondisi hari ini, harus menunggu situasi di Alama benar-benar kondusif, dan tentu saja harus mendapat persetujuan dari kepala daerah.
“Yang pasti masih akan ada pelayanan, tapi strateginya itu kami akan dengar saran dan masukan dari berbagai pihak termasuk para tokoh di wilayah tersebut,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Kadinkes Mimika Reynold Ubra menambahkan, pasca insiden di Alama, empat Nakes yang dikembalikan ke Timika, kini masih menjalani trauma healing tahap dua.
“Jadi, empat Nakes perempuan yang dikembalikan ke Timika, masih jalani trauma healing, dan kami benar-benar perhatikan kesehatan mentalnya sebelum nanti kembali menjalankan tugasnya,” demikian Reynold. (acm/ela)









Tinggalkan Balasan