APD- Nathan Kum, VP Community Development PT Freeport Indonesia saat memakaikan APD kepada salah satu peserta PBP YET, di Gedung Institut Pertambangan Nemangkawi Jalan LIP Kuala Kencana, Rabu (17/4). (FOTO: IST/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Isntitut Pertambangan Nemangkawi membuka program Papuan Bridge Program Youth Entrepreneurship (PBP YET), 11 orang terpilih menjadi peserta dan akan mengikuti proses pembelajaran kurang lebih 3-4 bulan kedepan.
Imanuel Kafiar, Superintendent Apprentice Management Nemangkawi Mining Institute dalam sambuatannya mengatakan aktivitas pembelajaran Papuan Bridge Program Youth Entrepreneurship (PBP YET) akan berlangsung kurang lebih 3-4 bulan.
Ini sekaligus sebagai ajang memperkenalkan program PBP YET kepada pihak-pihak terkait untuk mengajak peran serta dan keterlibatan dalam pengembangan kualitas generasi muda Papua.
Imanuel pada acara pembukaan PBP YET di Gedung Institut Pertambangan Nemangkawi Jalan LIP Kuala Kencana, Rabu (17/4) menjelaskan, sebagai gambaran umum, Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) yang didirikan pada Tahun 2003 merupakan bentuk komitmen sosial PT Freeport Indonesia untuk meningkatkan kuantiti dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya masyarakat lokal Papua untuk menjadi tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja melalui program-program pelatihan.
Salah satu program pelatihan reguler yang dimiliki oleh IPN selain program apprentice adalah Papuan Bridge Program.
Papuan Bridge Program atau yang disingkat PBP merupakan program pengembangan berdurasi singkat (selama 3 bulan) untuk mahasiswa Papua yang telah lulus dari Perguruan Tinggi atau Universitas, yang nantinya akan melanjutkan ke dunia kerja dan/atau apabila mereka memiliki potensi (minat dan bakat).
“Mereka dapat terjun ke dunia usaha melalui program ini. Institut Pertambangan Nemangkawi terus, berupaya untuk mengembangkan kapasitas generasi muda Papua semaksimal mungkin, sehingga para lulusan PBP nantinya mampu bersaing dan berprestasi di dunia kerja yang sesungguhnya,”ujarnya.
PBP sejak pertama kali diluncurkan di Tahun 2012, hingga Tahun 2020 telah berhasil meluluskan 213 peserta yang terbagi dalam 19 angkatan, dan hingga saat ini para alumni PBP telah bekerja di berbagai bidang profesi dan perusahaan seperti pertambangan, perbankan, BUMN, LSM, instansi pemerintahan, lembaga pendidikan, pengusaha, perusahaan swasta, dan kontraktor, termasuk PT Freeport Indonesia.
Proses pembelajaran di PBP mengadopsi metode yang dinamis, dimana peserta diajarkan berbagai hal, yang pada umumnya akan dijumpai dan dihadapi dalam dunia kerja, maupun usaha, seperti ketrampilan berbicara di muka umum, kemampuan presentasi, keterampilan komputer, kemampuan berbahasa inggris, kepemimpinan, kewirausahaan, tips menghadapi psikotes dan wawancara, serta materi-materi lainnya.
Dalam menjalankan program-program pelatihan tersebut, IPN berkolaborasi dengan berbagai, divisi/departemen di PTFI, seperti L&OD, PAD, Community Economic Development, Dept. Environmental dan instansi terkait lainnya di internal, maupun eksternal PTFI.
Lebih lanjut, Papuan Bridge Program (PBP) adalah bukan program ikatan dinas dengan Institute Pertambangan Nemangkawi, maupun PTFI, sehingga setelah menyelesaikan program ini, para peserta dapat mendaftarkan diri ke berbagai perusahaan, organisasi, termasuk instansi pemerintahan.
Di tahun ini (2024), setelah vakum lebih dari tiga tahun, Papuan Bridge Program kembali dibuka dengan konsep baru bernama Papuan Bridge Program Youth Entrepreneurship (PBP YET) yang lebih difokuskan kepada pengembangan kapasitas anak-anak muda asli Papua yang memiliki minat dan bakat di bidang kewirausahaan (bisnis).
Secara spesifik tujuan PBP YET yaitu
- Mengembangkan minat dan bakat generasi muda Papua untuk menjadi pengusaha mandiri dan berdaya saing
- Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, serta mental para generasi muda asli Papua untuk menjadi pengusaha yang kompeten di dunia usaha,
- Menciptakan agen-agen perubahan (agents of change) yang menjadi magnet, contoh dan teladan bagi generasi muda Papua lainnya untuk berani terjun ke dunia usaha.
Selanjutnya, untuk menunjang berjalannya program pelatihan ini, PBP YET mengadopsi materi pembelajaran dari program Dream Builder yang dibuat oleh Freeport McMoran Foundation yang berkolaborasi dengan Thunderbird School of Global Management dan Arizona State University (ASU).
Dream Builder merupakan program pelatihan bersertifikasi online gratis yang telah diikuti oleh lebih dari 185 ribu orang di 182 negara.
Program berbahasa Inggris ini memiliki 13 modul pembelajaran mencakup pengetahuan bisnis dasar yang diperlukan untuk memulai dan mengembangkan usaha kecil, seperti membuat rencana bisnis, pemasaran, penetapan harga, dan materi lainnya.
Metode pembelajaran dilengkapi secara visualisasi, video animasi, cerita pengalaman dari praktisi usaha, dan dilengkapi dengan template-template bisnis sederhana, sehingga memudahkan para pelaku usaha yang baru belajar berbisnis atau mereka yangsudah memiliki bisnis dan ingin mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya.
Untuk menopang program ini, IPN juga berkolaborasi dengan seksi Pembinaan & Pengembangan UMKM (PPUMKM) Departemen Community Economic Development (CED)) yang akan bertindak sebagai instruktur dan fasilitator, dimana PPUMKM-CED dinilai telah memiliki segudang pengalaman dalam mengembangkan dan membina pengusaha-pengusaha lokal asli Papua.
Berkaitan dengan proses penjaringan kandidat PBP YET, dimana tim PBP NMI dan tim PPUMKM CED telah mulai melakukan proses seleksi kandidat PBP YET sejak pertengahan tahun 2023, hingga awal Tahun 2024.
Para kandidat PBP YET dijaring melalui beberapa tahapan proses seleksi, yaitu tes verbal dan numerik, wawancara, kunjungan lapangan ke tempat usaha calon peserta, dan tes kesehatan (MCU).
Proses penjaringan dan seleksi dilakukan di beberapa kampus di Timika dan bagi peserta yang berdomisili di luar Timika dilakukan secara online.
Tahapan tes verbal dan numerik diikuti oleh 252 orang, kemudian yang dinyatakan lolos ke tahapan wawancara sebanyak 115 orang, dan diperoleh 48 orang yang lolos tes wawancara.
Setelah dilakukan verifikasi tempat usaha, minat dan bakat, maka diperoleh 16 orang yang lolos ke tahapan tes kesehatan (MCU).
Dari 16 kandidat PBP YET tersebut, 1 orang mengundurkan diri, 5 orang tidak lolos tes kesehatan dan 11 orang dinyatakan lolos tes kesehatan.
“11 orang tersebut adalah mereka yang saat ini hadir bersama-sama dengan kita, terdiri dari 1 laki-laki dan 10 perempuan, dimana 2 peserta berasal dari suku Amungme, 3 peserta dari suku Kamoro, 1 peserta dari suku Dani, 1 peserta dari suku Damal, 1 peserta dari suku Moni dan 3 peserta dari Papua lainnya (yakni Biak, Waropen dan Raja Ampat),” terangnya.
Para peserta akan mengikuti pembelajaran selama 15 Minggu atau 3-4 bulan secara hybrid (online & offline) yang akan dipandu oleh para instruktur dari IPN dan Program Pembinaan dan Pengembangan UMKM CED untuk mengakses dan menyelesaikan 13 modul Dream Builder yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan para siswa/peserta memahami materi yang diberikan.
“Harapan kami, para peserta/siswa PBP YET mampu mengaplikasikan materi-materi Dream Builder secara praktis ke dalam aktivitas usahanya, sehingga berdampak positif bagi kemajuan usaha mereka. Juga, pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dapat dibagikan dengan orang lain di sekitar mereka,” ungkapnya lagi
Yang tak kalah penting, yaitu diharapkan para peserta setelah menamatkan pembelajaran di PBP YET dapat diterima dalam Program Pembinaan dan Pengembangan UMKM (PPUMKM) CED PTFI, sehingga memperoleh pendampingan secara langsung dari mentor-mentor bisnis yang telah memiliki pengalaman dalam pendampingan dan pembinaan kepada pengusaha-pengusaha lokal Papua.
Sementara itu Nathan Kum VP Community Development Freeport Indonesia (PTFI) dalam sambutannya mengatakan, program luar biasa, karena dengan program ini bisa menciptakan, kemandirian dalam berusaha.
“Melihat semua peserta adalah OAP, maka kita yakin merekapun bisa, siapa bilang OAP tidak bisa, hanya karena kesalahan dalam berusaha , dengan program ini, saya yakin, anak-anak ini bisa sukses, Freeport mendukung penuh program ini, kedepan diharapkan, pesertanya bisa bertambah lagi,” harapnya.
Selain itu, Agatha Eva Yenusi asli dari waropen Biak yang berforesi selain mahasiswa, ia juga merupakan pedagang coconut oil selama dua tahun berjalan, dikesempatan yang sama ia mengutarakan rasa terima kasihnya kepada Freeport Indonesia, dalam hal ini Institut Nemangkawi yang telah menyengagarakan program ini
“Ini semua karena rencana Tuhan, saya bisa terpilih sebagai salah satu peserta program PBP YET, dan saya berjanji akan mengikuti hingga selesai,”ucapnya
Sama halnya dengan Fatima Yanti Onawame salah satu peserta asal Amungme, yang kesehariannya membuka usaha penjualan pulsa mengungkapkan rasa bahagianya terpilih mengikuti rogram PBP YET, ia berharap llmu yang diperoleh ini, bisa diterapkan nanti saat mulai berwirausaha kembali.
“Pernah sebelumnya saya membuka usaha konter pulsa, tetapi saya akhirnya tutup, saya berharap setelah mendapatkan ilmu dari para mentor, saya bisa terapkan itu di usaha saya, agar bisa maju lagi,” ungkapnya.
Begitupun dengan Fransina Weyau peserta asal Kamoro yang kesehariannya berjualan pinang, dan membuka usaha warung kopi ini berterima kasih kepada PTFI karena begitu banyak perserta, dan dirinya adalah salah satu yang terpilih menjalani program PBP YET.
Ia bercertia, sampai ada di tahap ini, dirinya menjalani proses yang panjang, kurang lebih setahun mengikuti tahapan, mulai dari memasukkan surat permohonan, tes wawancara, tes terlulis hingga MCU.
“Awalnya saya mendapat informasi bila Nemangkawi sedang membuka program PBP YET, dari WhatsApp grup , dan saya mencoba memasukkan lamaran, intinya di sini kita harus bersabar, dan tetap jaga kesehatan, karena proses untuk mengikuti program ini sangat panjang,“ ungkapnya.(ela)















Tinggalkan Balasan