Onna Bunga (FOTO: GREN/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Puskesmas (PKM) Mapurujaya selama Bulan Maret hingga 1 April 2024 menangani 20 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Onna Bunga, Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Mapurujaya, mengatakan kasus DBD di wilayah keranya terus meningkat, ini disebabkan oleh curah hujan di Mimika yang meningkat akhir-akhir ini sehingga memicu banyak genangan air sebagai media berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk.
“Selama Maret kita tangani 14 kasus DBD yang diderita oleh delapan orang anak dan enam orang dewasa. Dari 14 pasien tersebut ada 2 pasien asal Kampung Kaugapu, Hiripau 1 orang, Poumako 3 orang, Kelurahan Wania 2 orang, Mware 1 orang dan Kampung Tipuka 1 orang, serta 4 orang lainnya dari wilayah pesisir,” terangnya.
Lanjut Onna, khusus 1 April ada penambahan 6 pasien DBD, yaitu 1 pasien dari Kampung Tipuka, 2 orang dari Kelurahan Wania, 2 lainnya dari Kampung Kaugapu dan 1 lainnya dari Kampung Hiripau.
Dengan meningkatnya DBD, petugas PKM Mapurujaya pun intens turun langsung ke kampung-kampung untuk melakukan fogging sebagai langkah awal bilamana mendapat informasi adanya DBD di wilayah Distrik Mimika Timur.
Selain fogging, Onna Bunga mengimbau warga Mimika Timur supaya menjaga kebersihan lingkungan rumahnya masing-masing, terlebih tidak boleh ada genangan air.
“Kita sudah sering beri penyuluhan dan edukasi terkait kebersihan lingkungan rumah agar terhindar dari jentik-jentik nyamuk di sekitar rumah pasien terkonfirmasi DBD,” serunya.
Dipastikanya, besok (hari ini-Red), tim Promosi Kesehatan (Promkes), Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan survelans akan melakukan fogging di 5 titik, yaitu di Kelurahan Wania, Kampung Kaugapu dan Hiripau.
Untuk fogging sendiri dilakukan dengan jarak 200 meter mulai dari bagian depan sampai ke belakang serta sisi kiri-kanan dari rumah pasien DBD.
Onna kerap ia disapa menambahkan, selain DBD, sejak Januari hingga 1 April 2024, PKM Mapurujaya pun telah menangani 21 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di wilayah setempat.
“Sejak PKM Mapurujaya ditetapkan sebagai Puskesmas satelit dalam penanganan program HIV-AIDS mandiri, itu kami sudah temukan 21 kasus sampai saat ini,” jelasnya.
Dari puluhan pasien HIV-AIDS, kata Onna, petugas PKM Mapurujaya kini tengah memantau konsumsi obat terhadap para pasien.
Selain itu, setiap bulan, petugas PKM Mapurujaya rutin mengunjungi pasien di kediamannya termasuk melakukan pengobatan.
“Setiap bulan itu petugas kami turun untuk distribusi obat. Kecuali pasien yang ingin ambil sendiri, itu kami layani di Puskesmas,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Onna, ada beberapa pasien HIV-AIDS yang juga mengidap TBC.
“Kalau ada demikian, itu kami lakukan pengobatan TBC terlebih dahulu, setelah itu lanjut minum obat antiretroviral untuk pengobatan HIV-AIDS. Karena ada beberapa pasien yang mengeluh pusing kalau konsumsi obat TBC dan HIV-AIDS secara bersamaan,” demikian Onna. (glt)















Tinggalkan Balasan