drh. Sabelina Fitriani (FOTO: DOK/INDRI)

TIMIKAEXPRESS.id – Selain masih dihantui dengan mewabahnya virus ASF (African Swine Fever) pada ternak babi, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Mimika pun melarang keras, peternak atau pedagang agar tidak mendatangkan ternak sapi dari Kepulauan Seram, Maluku.

Larangan ini dikarenakan di Kepulauan Seram, ada ternak sapi diserang penyakit brucellosis.

Penyakit brucellosis adalah penyakit bakterial yang menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.

Namun, di Indonesia, brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular.

drh. Sabelina Fitriani, Kepala DPKH Kabupaten Mimika melarang mendatagkan sapi dari Maluku, namun peternak tidak perlu khawatir karena ada tiga daerah pemasok sapi yang diperbolehkan, yaitu Sorong, Nabire dan NTT.

“Tahun ini kami larang dan setop pasokan sapi dari Maluku karena penyakit brucellosis di sana (Maluku-Red) sangat tinggi. Kami berikan imbauan ini lebih awal agar saat hari raya kurban nanti tidak ada pedagang yang memasok sapi dari Maluku,” ungkap Sabelina kepada Timika eXpress di Hotel Swiss Belinn Timika, Papua Tengah baru-baru ini.

Dipastikannya, sapi yang dipasok atau didatangkan dari Maluku akan dicegat petugas otoritas pelabuhan dan akan dipulangkan.

“Kami akan keluarkan surat edaran untuk diteruskan kepada seluruh masyarakat Mimika. Kami juga masih khawatir karena tahun lalu ada sapi yang didatangkan dari Maluku, namun tidak habis terjual saat Idul Adha. Apalagi kalau sapinya belum dipotong, kami khawatir akan menularkan penyakit brucellosis,” ujar Sabelina kerap ia disapa.

Kendati demikian, Sabelina meyakini dan menjamin ke seluruh masyarakat Mimika kalau sapi yang didatangkan atau masuk Timika bebas dari penyakit tersebut.

“Ini kami pastikan karena sapi-sapi yang didatangkan sudah melalui pemeriksaan kesehatan secara ketat, sehingga sapinya sehat. Pihak yang mendatangkan pun harus mengantongi surat karantina dari daerah asal, dan akan dilakukan pemeriksaan kembali setibanya di Timika,” demikian Sabelina. (ela)