DISKUSI – Para peserta pelatihan saat mengikuti diskusi secara virtual dengan pemateri. (FOTO: Astrid/TimeX)

TIMIKA, TIMIKAEXPRESS.id – Sebanyak 30 bidan di Mimika mengikuti pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi bidan pada Fasilitas Kesehatan (Faskes) di wialayah setempat.

Puluhan bidan dari 26 Puskesmas dan seorang bidan dari RSUD Mimika mengikuti pembekalan materi secara virtual dari para pemateri dari Jayapura.

Setelah megkuti materi pelatihan Dalam Jaringan (Daring) sejak Selasa (22/11) lalu, ke 30 bidan pun akan mengikuti simulasi dan praktek pada 11-12 Desember 2023.

Sofie Narawena, Kepala Seksi Ketahanan Kesejahteraan Keluarga pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika, mengatakan kegiatan ini terselenggara atas kerja sama BKKBN Provinsi, Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi, Ikatan Bidan Provinsi dan Ikatan Bidan Mimika.

“Kegiatan ini penting karena ada banyak bidan yang belum kantongi sertifikat, meski mampu melakukan pemasangan alat kontrasepsi seperti IUD dan implan,” ujar Sofie yang juga Ketua Panita kegiatan.

Ia tidak menampik, selama penyajian materi  MP 1 hingga MP 6, puluhan bidan mengikutinya dengan penuh antusias, dan ini menjadi dasar untuk diaplikasikan pada praktek,” ujarnya kepada Timika eXpress, Senin (4/12).

Dipastikan pula, pada praktek nanti, para bidang akan mampu mengaplikasikan pemasangan alat kontrasepsi sesuai SOP.

“Harapan kami dalam pelayanannya nanti, para bidan yang nantinya tersertifikasi dapat memberikan edukasi yang baik dalam penggunaan KB IUD maupun implan,” ujarnya.

Ia menambahkan, terkait akseptor yang dipakai untuk menerima KB IUD maupun dan implan merupakan tanggung jawab para peserta.

“Dari awal mereka mengikuti pelatihan ini, kami sudah sampaikan bahwa peserta harus memiliki dua akseptor untuk menerima KB IUS maupun implan, tapi tidak menutup kemungkinan kami panitia juga menyiapkan akseptor,” tambahnya.

Menurut Sofie, pihak BKKBN kini sangat memperhatikan metode jangka panjang dari pemasangan IUD atau implant dalam mengatur jarak kehamilan, termasuk memastikan tidak adanya efek samping.

Secara terpisah, Yuliana Reniban, salah satu peserta pelatihan mengatakan, pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi bidan di Mimika ini sangat diapresiasi, karena banyak belum diketahui terkait pelayanan kontrasepsi.

“Memang ada hal baru yang kami pelajari untuk bisa memperbaiki pelayanan kontrasepsi yang lebih maksimal,” ujarnya.

Diharapnya pula, ke depan nanti bersama para bidan yang akan disertifikasi dari pelatihan ini menjadi motivasi untuk teman-teman bidan lainnya di Mimika.

“Kami berharap pelatihan ini selalu digelar sehingga membantu sekaligus menambah pengetahuan bidan di Mimika dalam melayani masyarakat,” tandasnya. (ine)