Reynold Ubra (FOTO: DOK/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Kasus malaria di Kabupaten Mimika masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Terhitung sejak Januari hingga 8 November 2025, terdapat 155.037 penderita malaria dari 849.927 pemeriksaan darah atau sekitar 18,2 persen.

Temuan kasus malaria melalui pemeriksaan mikroskopis atau metode diagnostik standar emas untuk mendeteksi parasit malaria tercatat 279.506 pemeriksaan dengan hasl positif 90.047.

Sedangkan berdasarkan hasil Rapid Diagnostic Test (RDT) atau tes cepat dengan mendeteksi antigen parasit malaria dalam darah pasien, tercatat 570.498 pemeriksaan, dengan 65.044 hasilnya positif malaria.

Laporan Dinas Kesehatan Mimika melalui e-SISMAL mencatat, lebih 75 ribu kasus merupakan malaria tropika, sementara lebih dari 59 ribu merupakan malaria tersiana.

Demikian dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Mimika, Reynold Ubra kepada Timika eXpress, Rabu (26/11).

Dijelaskanya, malaria tropika menunjukkan adanya infeksi baru dari gigitan nyamuk, sedangkan malaria tersiana biasanya muncul akibat ketidakpatuhan penderita dalam menjalani pengobatan sampai tuntas.

Tingginya angka ini sekaligus mencerminkan dua persoalan besar, yaitu:

1. Lingkungan yang belum dikelola dengan baik sehingga masih banyak tempat berkembang biaknya nyamuk malaria.

2. Rendahnya kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi obat malaria sesuai dosis, waktu, dan anjuran petugas kesehatan.

Ribuan Anak Sekolah jadi Korban

Dari puluhan ribu kasus tersebut, lebih dari 35 ribu penderita atau 33 persen adalah anak usia 5–14 tahun, yakni kelompok siswa TK hingga SMP.

Sedangkan usai 1-4 tahun terdata 10 persen, 0-11 bulan tercatat 2 persen, dan usai 15-64 tahun mencapai 64 persen.

Sedangkan usai di atas 64 tahun hanya 1 persen.

“Data ini menunjukkan bahwa sekolah menjadi salah satu ruang yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam upaya pencegahan malaria,” terang Reynold.

Pasalnya, sekolah adalah lembaga tempat kegiatan belajar berlangsung sesuai jenjang pendidikan dan usia.

Artinya, sekolah memiliki peran besar dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, serta perilaku peserta didik, termasuk menjaga kesehatan mereka agar proses pembelajaran tidak terganggu.

“Jika ribuan siswa terserang malaria, maka sudah saatnya sekolah mengambil langkah nyata menciptakan lingkungan yang bersih, aman, dan bebas jentik nyamuk,” serunya.

Upaya ini dapat dilakukan melalui, pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah dan wadah penampungan air, penerapan kurikulum Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta gerakan sekolah sehat bebas malaria.

Lingkungan sekolah yang sehat akan berdampak positif pada kebiasaan siswa di rumah, sehingga mendorong terciptanya rumah yang bebas malaria.

Tempo Kas Tuntas

Tempo Kas Tuntas adalah inovasi percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Mimika.

Program ini merupakan singkatan dari Tanggulangi Eliminasi Malaria melalui Periksa dan Obati serta menjaga Kepatuhan Sampai Tuntas.

Program ini berjalan melalui dua pendekatan utama, yaitu :

1. Mengawasi kepatuhan pasien malaria dalam minum obat hingga tuntas.

2. Mencegah gigitan nyamuk melalui pemberantasan sarang dan pengendalian tempat perindukan nyamuk.

Melihat tingginya jumlah kasus pada anak sekolah, program Tempo Kas Tuntas perlu diperluas hingga ke lingkungan pendidikan, sehingga siswa menjadi motor penggerak “Sekolah Sehat Bebas Malaria”.

“Ribuan siswa di Mimika dapat menjadi kekuatan besar dalam Gerakan Kebangkitan Kesehatan Masyarakat, langkah strategis menuju Kabupaten Mimika bebas malaria,” tandasnya.

Berdasarkan update pemeriksaan Tempo Kas Tuntas di lapangan (total) per tanggal 8 November 2025, total pemeriksaan mencapai 259.266, dengan hasil positif malaria 7.522 atau 2,9 persen. (vis)