TIMIKA, timikaexpress.id – Deru mesin pesawat milik Smart Cakrawala Aviation yang biasanya membawa harapan bagi warga pedalaman Papua, mendadak terhenti oleh rentetan tembakan di Bandara Koroway Batu (Danowage), Rabu (11/2/2026).
Capt. Egon Irawan yang sebelumnya terbang membawa harapan, namun kini pulang dalam keheningan.
Di balik kemudi pesawat itu, Capt. Egon Irawan tengah menjalankan tugasnya, menerbangkan logistik dan kebutuhan masyarakat di wilayah yang hanya bisa dijangkau lewat udara.
Namun penerbangan itu menjadi yang terakhir.
Ia gugur saat menjalankan misi kemanusiaan.
Kepergian sang pilot meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang selama ini merasakan manfaat dari penerbangan perintis.
“Kini, Beliau Tak Lagi Pulang”
Duka itu tumpah melalui tulisan sang putra, Andrian Saputra, yang mengungkapkan rasa kehilangan dan “kemarahannya” lewat media sosial.
Dalam catatannya, ia menegaskan bahwa ayahnya adalah pekerja sipil yang menjalankan tugas kemanusiaan.
“Apa yang terjadi bukan sekadar pembunuhan. Itu adalah eksekusi keji terhadap pekerja sipil yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.”
Ia juga membantah berbagai tuduhan yang beredar.
“Bapak saya bukan agen intelijen. Bapak saya bukan bagian dari konflik bersenjata. Tuduhan yang dilontarkan adalah fitnah yang tidak berdasar.”
Menurutnya, sang ayah hanyalah seorang pilot penerbangan perintis, penyambung nadi kehidupan bagi masyarakat pedalaman Papua.
“Beliau mengantar sembako ketika warga kesulitan pangan.
Beliau membawa obat-obatan ketika akses kesehatan terputus.
Terbang di atas pegunungan dan cuaca ekstrem demi memastikan kebutuhan dasar sampai ke tangan yang membutuhkan.”
Kini, kata-kata itu berubah menjadi kalimat yang paling menyakitkan.
“Kini, beliau tak lagi pulang.”
Luka yang Belum Selesai
Bagi keluarga, kehilangan ini bukan sekadar berita duka.
Ini adalah ruang kosong yang tak tergantikan.
“Jika pekerja sipil yang membawa logistik kemanusiaan dijadikan target, lalu siapa yang aman?”
Di balik seragam pilot dan tugas profesionalnya, Egon adalah seorang ayah yang penuh kasih.
Seorang suami, seorang kepala keluarga, dan seorang manusia yang mengabdikan dirinya untuk menjangkau wilayah-wilayah terisolasi.
Putranya menutup tulisan itu dengan kalimat yang sederhana namun menyayat:
“Saya akan berusaha tegar, meski rindu ini tidak pernah benar-benar selesai.”
“Fly high, cinta pertamaku…
Till I see you again, Bapak.”
Catatan itu ditulis pada 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Syaban 1447 H.
Tragedi ini kembali menyisakan pertanyaan panjang tentang keamanan penerbangan perintis dan keselamatan pekerja sipil yang mengabdikan diri di wilayah konflik.
Namun di tengah segala polemik, satu hal yang tak bisa dibantah, ada keluarga yang kini kehilangan, ada anak yang menunggu ayahnya pulang, dan tak akan pernah lagi mendengar suara itu di ambang pintu. (*)








Tinggalkan Balasan