PENGHARGAAN – Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyerahkan penghargaan kepada pemenang IFRC 2026, Freeport Indonesia Kamoro Tim dalam seremoni penutupan di MSC, Timika, Papua Tengah, Sabtu (31/10/2026). (FOTO:MAURITS/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i, menegaskan Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana strategis untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan kesiapsiagaan personel fire and rescue dalam menghadapi berbagai situasi kedaruratan.

Hal itu disampaikan Syafi’i saat memberikan sambutan pada penutupan IFRC 2026 di Mimika Sport Complex (MSC), Timika, Papua Tengah, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Syafi’i, penyelenggaraan IFRC memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas potensi pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR), terutama dari sektor pertambangan, energi, dan industri yang memiliki risiko kedaruratan tinggi.

Ia menjelaskan, sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, Basarnas bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan.

Dalam menjalankan tugas tersebut, Basarnas melibatkan berbagai potensi SAR sebagai unsur pendukung operasi penyelamatan.

“Kami memandang IFRC sebagai wadah penting untuk menguji kemampuan, berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan profesionalisme personel fire and rescue, khususnya dalam mengantisipasi kedaruratan di sektor pertambangan, energi, dan industri berisiko tinggi,” ujar Syafi’i.

Ia menambahkan, kemampuan yang ditunjukkan para peserta IFRC merupakan sumber daya strategis yang dapat mendukung operasi pencarian dan pertolongan yang dikoordinasikan Basarnas.

Terutama dalam merespons kecelakaan, bencana, maupun kondisi lain yang membahayakan keselamatan manusia.

Syafi’i juga mengapresiasi seluruh peserta, observer, praktisi fire and rescue, serta penyelenggara yang telah berkontribusi menyukseskan kompetisi tersebut.

Menurut dia, keberhasilan IFRC tidak semata-mata diukur dari prestasi dan gelar juara yang diraih peserta.

Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan sekaligus membangun budaya keselamatan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Keberhasilan kita bukan tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang seberapa siap kita menyelamatkan jiwa ketika pertolongan dibutuhkan. Karena setiap jiwa yang kita selamatkan adalah investasi yang tidak ternilai bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Lebih lanjut, Basarnas berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas potensi SAR melalui pembinaan dan sertifikasi sesuai tugas dan kewenangannya. Syafi’i juga mengajak kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, relawan, serta media untuk memperkuat sinergi dalam meningkatkan kemampuan tanggap darurat nasional.

Selain penguatan kompetensi personel, edukasi dan kesiapsiagaan SAR bagi masyarakat juga menjadi perhatian.

Menurutnya, edukasi perlu dilakukan sejak dini, mulai dari lingkungan sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat luas.

Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang mampu mengenali potensi risiko, melakukan tindakan penyelamatan awal, dan merespons keadaan darurat secara tepat.

Menutup sambutannya, Syafi’i mengucapkan selamat kepada para pemenang dan mengapresiasi seluruh peserta IFRC 2026.

Ia berharap pengalaman dan semangat kolaborasi selama kompetisi dapat diterapkan di lingkungan kerja masing-masing serta memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Melalui IFRC 2026, diharapkan terbangun potensi fire and rescue yang semakin kompeten, profesional, dan siap bersinergi dalam mendukung operasi pencarian dan pertolongan demi keselamatan masyarakat Indonesia. (*)