SOLIDARITAS — Warga dan relawan Flobamora Kabupaten Mimika melakukan penggalangan dana untuk membantu korban gempa bumi di Flores di sejumlah lampu merah Kota Timika. Aksi kemanusiaan tersebut resmi berakhir, Kamis (27/8/2026). (FOTO:DOK. FLOBAMORA MIMIKA)

MIMIKA, timikaexpress.id — Penggalangan dana kemanusiaan untuk membantu korban gempa bumi di Flores, NTT yang dilakukan Ikatan Keluarga Flobamora (IKF) Kabupaten Mimika di sejumlah lampu merah Kota Timika resmi berakhir pada Kamis (27/8/2026).

Aksi kemanusiaan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat Mimika, mulai dari komunitas, lembaga pendidikan, organisasi, keluarga besar Flobamora hingga para pemuka agama.

Ketua Umum Flobamora Kabupaten Mimika, Gabriel Zezo, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Ketua Umum Flobamora Mimika, Gabriel Zezo

“Atas nama keluarga besar Diaspora Flobamora Kabupaten Mimika, kami menyampaikan limpah terima kasih kepada seluruh masyarakat Mimika yang telah membuka hati dan memberikan bantuan untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana di Flores,” ujar Gabriel.

Menurutnya, kepedulian masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui bantuan uang, tetapi juga tenaga, waktu, doa dan dukungan moral.

Hal tersebut menunjukkan bahwa musibah di Flores menjadi perhatian bersama masyarakat Mimika tanpa melihat latar belakang suku maupun agama.

Gabriel secara khusus mengapresiasi para guru serta anak-anak TK, SD dan SMP yang ikut menyisihkan sebagian yang mereka miliki untuk membantu korban gempa.

“Nilainya mungkin tidak besar, tetapi ketulusan dan pengorbanan mereka sangat berarti. Dari anak-anak, kita belajar bahwa berbagi tidak harus menunggu memiliki banyak,” katanya.

Apresiasi juga diberikan kepada seluruh sektor dalam keluarga besar Flobamora yang turut memberikan bantuan, baik dana maupun tenaga.

Gabriel memberikan penghargaan khusus kepada Ketua Pemuda Flobamora dan jajaran pemuda yang menjadi motor penggerak penggalangan dana di lapangan.

“Mereka adalah anak-anak muda yang dengan sukarela berdiri di bawah panas matahari, mengetuk hati masyarakat dan mengajak pengguna jalan untuk berbagi. Ini adalah bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap sesama,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga Johannes Rettob dan Pengurus TP-PKK Kabupaten Mimika yang datang langsung ke posko membawa bantuan untuk korban bencana.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Abraham Kateyau dan keluarga atas bantuan yang diberikan.

Dukungan dari kalangan gereja juga mendapat apresiasi, di antaranya Pastor Amandus Rahadat, Pastor Paroki Sempan Gabriel Ngga, OFM, juga Pastor Paroki St. Sisilia SP 2 dan Pastor Paroki SP 3 yang turut mendorong umat untuk berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut.

Gabriel mengakui masih banyak pihak yang telah membantu namun tidak dapat disebutkan satu per satu.

Ia memastikan setiap dukungan menjadi bagian penting dari gerakan solidaritas tersebut.

Duka Flores, Duka Bersama

Gabriel menegaskan, penggalangan dana tersebut bukan sekadar kegiatan mengumpulkan bantuan, tetapi merupakan bentuk solidaritas dan persaudaraan masyarakat perantauan kepada saudara-saudara yang sedang menghadapi bencana.

“Ini bukan hanya tentang berapa banyak uang yang terkumpul. Yang lebih penting adalah pesan bahwa saudara-saudara kita di Flores tidak sendiri. Ketika mereka menangis, kita ikut merasakan air mata mereka,” katanya.

Ia berharap bantuan yang terkumpul dapat memberikan kekuatan dan harapan bagi masyarakat terdampak gempa, terutama mereka yang kehilangan rumah, harta benda maupun anggota keluarga.

“Flores adalah tanah leluhur kita. Duka mereka adalah duka kita, air mata mereka adalah air mata kita. Walaupun kita berada jauh di tanah rantau, hati kita tetap bersama mereka,” ujar Gabriel.

Menurutnya, aksi tersebut juga menunjukkan bahwa perbedaan suku, agama dan latar belakang bukan penghalang untuk bersatu ketika kemanusiaan memanggil.

“Penggalangan dana boleh berakhir, tetapi kasih dan persaudaraan jangan pernah berakhir. Dari Mimika untuk Flores, dari hati untuk kemanusiaan,” pungkasnya. (vis)