Kapolres Mimika AKBP Alredo A. Rumbiak. (FOTO: GREN/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id — Kepolisian Resor Mimika masih melakukan penyelidikan terkait dugaan penyanderaan terhadap sembilan perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada 18 Agustus 2026.
Hingga Senin (24/8/2026), polisi belum memperoleh perkembangan signifikan terkait keberadaan para korban maupun kelompok yang diduga terlibat dalam aksi tersebut.
Kapolres Mimika AKBP Alredo A. Rumbiak mengatakan proses olah tempat kejadian perkara (TKP) dan investigasi masih berlangsung.
Namun, sejumlah kendala di lapangan membuat aparat belum dapat memastikan keberadaan seluruh korban maupun pihak yang diduga sebagai pelaku.
“Untuk perkembangan, kami belum mendapatkan hal-hal baru. Posisi keberadaan pelaku maupun korban belum kami dapat,” ujar Kapolres Mimika kepada awak media seusai memimpin upacara serah terima jabatan di Mapolres Mimika, Senin.
Menurutnya, salah satu kendala dalam proses pencarian adalah belum ditemukannya seorang korban yang mengalami patah kaki setelah terjatuh.
Berdasarkan informasi yang diterima, korban tersebut telah diamankan keluarganya dan dibawa ke lokasi yang jauh sehingga menyulitkan aparat melakukan pencarian serta pemeriksaan.
“Ketika dia jatuh, sudah diamankan oleh keluarganya sendiri dan dibawa jauh, sehingga kami belum bisa menemukan yang bersangkutan,” katanya.
Meski demikian, berdasarkan laporan Kapolsek setempat, situasi keamanan di Distrik Jila saat ini relatif kondusif.
Polisi memastikan kondisi wilayah tersebut tetap dipantau.
“Berdasarkan laporan Kapolsek, situasi di sana landai, situasi kondusif,” ungkapnya.
Sementara itu, kelompok yang diduga melakukan penyanderaan belum menyampaikan pernyataan ataupun klaim bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Kapolres Mimika menyebutkan, berdasarkan keterangan saksi yang anggota keluarganya diduga menjadi korban, kelompok tersebut diduga berasal dari luar Jila.
Saksi mengaku tidak memahami bahasa yang digunakan para pelaku, tetapi menduga bahasa tersebut menyerupai bahasa Nduga.
“Berdasarkan informasi, kelompok yang bermain di Jila ini, dari saksi yang keluarganya menjadi korban, bahasa yang mereka dengar itu diduga orang Nduga.
Mereka mengatakan tidak mengerti bahasanya, tetapi seperti bahasa Nduga. Itu menurut keterangan saksi,” jelasnya.
Polisi masih mengumpulkan keterangan dari para saksi dan melakukan investigasi untuk mengetahui keberadaan para korban serta mengidentifikasi kelompok yang diduga berada di balik aksi tersebut. (via)
























Tinggalkan Balasan