Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Nurhaidah, SE (FOTO:HUMAS PEMPROV PAPUA TENGAH)
JAYAPURA, timikaexpress.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah terus memperkuat berbagai strategi untuk menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Papua Tengah.
Upaya tersebut dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pendampingan Perencanaan SPM Pendidikan, Implementasi Program Penanganan ATS, dan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di Hotel Aston Jayapura, 28–30 Mei 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Nurhaidah, SE mengatakan penanganan ATS menjadi prioritas pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
“Pendidikan adalah hak semua anak tanpa memandang kondisi geografis, ekonomi maupun latar belakang budaya. Karena itu kami terus mencari solusi yang tepat sesuai kondisi Papua Tengah,” ujarnya.
Menurut Nurhaidah, Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley telah menjalankan sejumlah program prioritas pendidikan untuk mempercepat penuntasan ATS.
Beberapa program unggulan tersebut di antaranya sekolah gratis bagi siswa SMP, SMA, SMK dan SLB, bantuan pendidikan berpola asrama, program Sekolah Sepanjang Hari (SSH), hingga penempatan guru Mapega di daerah 3T.
Pada 2025 hingga 2026, Pemprov Papua Tengah juga membiayai ribuan siswa dan mahasiswa melalui program BOSDA dan bantuan pendidikan tinggi guna mencegah anak putus sekolah.
“Tahun 2025 kami membiayai 132 sekolah SMA, SMK dan SLB. Tahun 2026 ditambah 148 SMP dengan total lebih dari 53 ribu siswa penerima manfaat,” jelasnya.
Selain itu, sebanyak 274 guru Mapega telah ditempatkan di daerah 3T pada 2025 dan kuotanya ditambah menjadi 500 guru pada 2026 untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar.
Dinas Pendidikan Papua Tengah juga mempercepat peningkatan kapasitas guru melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Nurhaidah mengungkapkan, berbagai strategi tersebut mulai menunjukkan hasil positif.
Berdasarkan data, angka ATS Papua Tengah turun dari 205.764 anak pada 2024 menjadi 131.118 anak per April 2026.
“Penurunan ini merupakan hasil kerja bersama pemerintah, sekolah, yayasan pendidikan dan seluruh mitra yang terlibat dalam percepatan penanganan ATS di Papua Tengah,” katanya.
Ia berharap berbagai program tersebut dapat terus memperluas akses pendidikan dan memastikan seluruh anak Papua Tengah mendapatkan hak pendidikan yang layak dan berkualitas. (*)














Tinggalkan Balasan