Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA (FOTO:DOK. PRIBADI)
TIMIKA, timikaexpress.id – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menegaskan bahwa dunia pendidikan di Tanah Papua, khususnya di Mimika, masih menghadapi tantangan serius.
Mulai dari keterbatasan sarana, kemiskinan, jarak geografis, hingga luka sosial yang melemahkan semangat belajar anak-anak, terutama anak asli Papua.
“Kondisi ini nyata kita hadapi setiap hari,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Uskup Timika mengagendakan lokakarya bersama para pemangku kepentingan dan guru Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) pada April 2026.
Kegiatan itu bertujuan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah YPPK, baik di wilayah pesisir maupun pedalaman Mimika.
Uskup Bernardus mengingatkan bahwa budaya Papua mengajarkan hidup dalam kebersamaan.
“Kita tidak berjalan sendiri. Kita saling menopang dan menjaga,” katanya.
Ia menggambarkan tanah sebagai sumber nilai kehidupan bagi orang Papua.
Dari tanah, manusia belajar kesabaran, ketekunan, dan harapan, seperti benih yang harus dirawat sebelum berbuah.
Menurutnya, banyak anak masih mencari arah hidup, sehingga peran guru menjadi sangat penting sebagai penunjuk jalan.
“Guru menghantar murid kepada terang, bukan menjadi tujuan. Kita dipanggil membawa mereka kepada Sang Guru Sejati, Yesus Kristus,” ungkapnya.
Uskup Bernardus menyebut guru sebagai “penjaga api kehidupan” dalam budaya Papua adalah penjaga semangat, nilai, dan harapan generasi.
“Menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi tanggung jawab adat dan iman,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa guru sejati harus menjadi teladan dalam kesabaran, kesetiaan, dan kerendahan hati, serta berjalan bersama keluarga, gereja, dan masyarakat dalam mendidik anak-anak.
“Setiap anak adalah benih masa depan Papua. Jika hari ini kita setia menjaga api itu, suatu saat Papua akan menuai terang,” pungkasnya. (maurits sadipun)















Tinggalkan Balasan