Tony Wenas (FOTO: DOK/TIMEX)
JAKARTA, TIMIKAEXPRESS.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) akan kembali beroperasi pada Maret 2026. Kepastian ini disampaikan Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin.
“Mulai bulan Maret 2026 baru kita akan mulai. Dan memerlukan waktu untuk bisa meningkat ke tingkat penuh di akhir 2026. Makanya kalau dilihat dari koreksinya, di 2027 angka produksi kita sudah langsung naik,” ujar Tony.
Ia menjelaskan, GBC belum dapat berproduksi penuh akibat insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu.
Insiden tersebut merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi sehingga operasional harus dihentikan sementara.
“Porsi yang paling besar ini harus kita hentikan dulu sebentar, sampai dia betul-betul aman,” kata Tony.
Freeport sebelumnya menegaskan, kejadian tersebut menyebabkan penundaan kegiatan produksi jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026.
GBC merupakan tambang bawah tanah terbesar di kompleks pertambangan Freeport, dengan produksi konsentrat mencapai 133.800 ton per hari, atau sekitar 64 persen dari total kapasitas PTFI.
Dua tambang bawah tanah lainnya, DMLZ dan Big Gossan, masing-masing menghasilkan sekitar 64.900 ton per hari dan 8.000 ton per hari.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan operasional terbatas GBC dapat dimulai pada 2026, meskipun pemulihan penuh diperkirakan baru terealisasi pada 2027.
Targetkan Produksi Tembaga 478 Ribu Ton
Disamping itu, PT Freeport Indonesia menargetkan produksi tembaga pada tahun 2026 sebesar 478 ribu ton, dari rencana awal mencapai 700 ribu ton.
“Kalau dilihat dari rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) kita tahun 2026, rencana kalau di RKAB 2026 yang lama yang sudah kita revisi dan sudah kita sampaikan ke Kementerian ESDM pada pertengahan November yang lalu, dari rencana awal 700 ribu ton tembaga itu di RKAB 2026 baru kita hanya akan memproduksi 478 ribu ton tembaga atau hanya 68 persen,” ujar Tony Wenas.
Sementara untuk emas, Freeport menargetkan produksi dari rencana 45 ton menjadi hanya akan memproduksi 26 ton, dan produksi emas ini semuanya akan dikonsumsi oleh PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. Freeport sendiri tidak ada rencana untuk mengekspor emas.
Tony juga menyampaikan bahwa untuk prediksi harga logam tembaga dalam RKAB 2026 baru akan bisa mencapai 4,75 dolar Amerika Serikat (AS) per pound, lebih tinggi dari proyeksi RKAB 2026 lama yang sebesar 3,75 dolar AS.
Sedangkan, harga emas diprediksikan pada tahun depan akan mencapai 4.000 dolar AS per troy ounce, lebih tinggi dibandingkan proyeksi dalam RKAB 2026 lama sebesar 1.900 dolar AS per troy ounce.
“Sehingga proyeksinya peningkatan harga jual ini cukup tinggi dari tembaga maupun emas,” kata Tony.
Dengan demikian, proyeksi hasil penjualan Freeport dari RKAB 2026 baru sebesar 8,3 miliar dolar AS. Dari besaran tersebut, proyeksi penerimaan negara yang disetorkan oleh Freeport pada 2026 mencapai 2,9 miliar dolar AS.
“Dan penerimaan negara ini saya ulangi adalah dari pajak perseroan badan, dividen dan juga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) baik royalti maupun PNBP lainnya,” kata Tony pula. (ant)















Tinggalkan Balasan