JENAZAH – Tim penyelamat tambang bawah tanah/UGMR PT Freeport Indonesia saat mengangkat peti jenazah korban terjebak luncuran material basah tambang bawah tanah GBC Tembagapura (FOTO: ISTIMEWA CORCOM FREEPORT)
TIMIKAEXPRESS.id – Presiden Direktur (Presdir) PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, menyampaikan duka cita mendalam pasca ditemukannya dua pekerja yang terjebak luncuran material basah (wet muck) di Grasberg Block Cave ( GBC), Sabtu (20/9).
“Atas nama perusahaan dan pribadi, saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. PTFI akan mendampingi dan memberikan dukungan penuh kepada keluarga di masa sulit ini,” kata Tony dalam video singkat berdurasi 2 menit 27 detik yang diterima Timika eXpress, Sabtu.
Tony menegaskan, tim penyelamat akan terus bekerja tanpa henti meski menghadapi tantangan besar dan risiko tinggi.
Hingga kini, pencarian terhadap lima pekerja lain yang masih terjebak terus dilakukan.
Perusahaan mengajak seluruh pihak untuk mendoakan serta memberi dukungan moral agar proses evakuasi berjalan lancar.
PTFI juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam situasi darurat ini.
Tim penyelamat tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI) menemukan dua pekerja yang terjebak dalam insiden luncuran material basah di Grasberg Block Cave, Sabtu sekitar pukul 08.45 WIT.
Identitas keduanya terkonfirmasi sebagai Wigih Hartono (37) dan Irawan (46), keduanya teknisi listrik dari PT Cita Contract.
Proses identifikasi dilakukan tim medis bersama kepolisian.
Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, membenarkan penemuan tersebut.
Menurutnya, kedua jenazah telah dievakuasi, divisum, disalatkan, dan jenazah keduanya telah diterbangkan ke kampung halaman masing-masing pada Sabtu (20/9) petang dari Timika.
Sebelumnya, pada Senin (8/9/2025) malam, terjadi aliran material basah dalam jumlah besar di area Grasberg Block Cave.
Insiden itu menutup akses tambang bawah tanah dan membuat tujuh pekerja kontraktor terjebak.
Sejak itu, operasi penambangan dihentikan sementara demi memprioritaskan pencarian dan evakuasi.
Pemkab Mimika Sampaikan Bela Sungkawa
Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah ikut berbela sungkawa kepada keluarga dua pekerja PT Cita Contract yang menjadi korban dalam insiden longsor material basah di lokasi tambang bawah tanah area Grasberg Block Cave Tembagapura.
Bupati Mimika Johannes Rettob di Timika, Minggu, mengatakan duka yang dirasakan oleh keluarga besar PT Freeport Indonesia dan keluarga dua pekerja atas nama almarhum Wigih Hartono dan almarhum Irawan yang bertugas sebagai Elektrikal PT CC juga merupakan duka seluruh warga Mimika.
“Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Mimika, kami menyampaikan turut berbela sungkawa yang mendalam atas musibah ini,” kata John Rettob.
Jenazah kedua pekerja itu baru ditemukan pada Sabtu (20/9) pagi sekitar pukul 08.45 WIT oleh tim penyelamat tambang bawah tanah Under Ground Mining Response/UGMR PT Freeport Indonesia.
Bupati Mimika berharap lima pekerja lainnya yang juga ikut terjebak dalam luncuran material basah di tambang GBC Tembagapura sejak Senin (8/9) malam bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat.
“Kita berdoa atas kerja tim penyelamat bawah tanah PTFI dan masih terus berharap rekan-rekan pekerja itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Kami memberikan apresiasi luar biasa bagi tim dengan kerja keras dan semangat yang tulus dalam upaya penyelamatan ini,” tutur John Rettob.
Misi pencarian dan penyelamatan para pekerja yang masih terjebak di area lumpur basah tambang bawah tanah GBC Tembagapura itu kini sudah memasuki hari ke-12.
Dalam upaya itu, PTFI telah menghentikan seluruh operasi penambangannya karena memprioritaskan upaya pencarian dan penyelamatan lima pekerja yang masih belum ditemukan.
Keluarga Pasrah Menunggu Jenazah
Keluarga teknisi listrik PT Freeport Indonesia asal Ponorogo, Jawa Timur, Wigih Hartono (38), hanya bisa pasrah menunggu kedatangan jenazah setelah korban ditemukan meninggal dunia akibat longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (8/9).
Rohmat, kakak ipar Wigih Hartono, mengatakan keluarga baru mendapat kabar resmi dari perusahaan setelah sebelumnya hanya mengetahui adanya longsor dari pemberitaan media.
“Awalnya kami hanya mendapat kabar dari pemberitaan di media. Sejak itu kami belum bisa menghubungi Wigih sampai dapat kabar resmi dari perusahaan,” kata Rohmat, Sabtu (20/9).
Wigih merupakan warga Tulungagung yang menetap di Ponorogo setelah menikah.
Ia sudah tujuh tahun bekerja di Freeport dan terakhir pulang pada Agustus lalu untuk cuti dua pekan sebelum kembali ke Papua.
Jenazah Wigih ditemukan tim evakuasi pada Sabtu (20/9) sekitar pukul 08.45 WIT setelah pencarian berhari-hari di area tambang yang sempit dan basah.
Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak laki-laki berusia 3,5 tahun dan 12 tahun.
“Istri dan keluarga korban telah berangkat ke Papua untuk menjemput almarhum. Begitu jenazah tiba di Ponorogo akan langsung dimakamkan di Desa Nambak,” imbuh Rohmat. (vis/via/ant)














Tinggalkan Balasan