FOTO BERSAMA– Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Lenni Silas, foto bersama [etugas kesehatan di Hotel Grand Tembaga, Selasa (3/12) (FOTO: Linda Bubun Langi/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika melaksanakan pelatihan pemberian makan bayi dan anak (PMBA) bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Mimika, yang melibatkan petugas ahli gizi dari 28 Puskesmas di Timika.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (3/12/2024) yang dibuka oleh Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Lenni Silas dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama lima hari kedepan sejak, Selasa hingga Sabtu (3-7/12/2024).

Lenni Silas dalam mengawali kegiatan mengatakan, melalui kegiatan ini diharapkan peserta mampu memberikan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) kepada ibu Baduta dan ibu hamil.

Metode untuk pelatihan ini adalah klasikal dan blended, dimana para peserta harus memenuhi sejumlah syarat untuk bisa memperoleh sertifikasi.

Setelah pelatihan, peserta harus mampu menjelaskan konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) di masyarakat. Melakukan Pemberian Makan Bayi dan Anak (0-23 bulan) , bagaimana memberikan konsleing kepada masyarakat tentang cara pemberian makan ibu hamil dan ibu menyusui, serta menjelaskan pemutusan rantai permasalahan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) juga melakukan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) di lingkup kerja masing-masing.

Dikatakan, kegiatan ini juga terkait dengan goal Indonesia emas pada Tahun 2045. Untuk itu pemerintah melalui Dinas Kesehatan melaksanakan pelatihan ini, guna melakukan menekan angka stunting yang merupakan isu nasional termasuk di Mimika.

Untuk itu, kegiatan ini juga merupaka salah satu langka preventif dalam mengatasi masalah stunting, yang dimulai dari masa kehamilan, bahkan bagi calon ibu, seperti remaja, dengan pemberian penambah darah.

“Pertama, ibu hamil perlu mendapatkan asupan makanan yang bergizi seimbang. Program pemberian suplemen tambahan, seperti tablet tambah darah, sangat penting untuk dijalankan dengan baik. Nutrisi yang baik selama kehamilan memastikan janin mendapatkan gizi yang diperlukan untuk tumbuh optimal,” katanya Leni saat ditemui Timika eXpress di sela kegiatan.

Kemudian, setelah lahir, bayi harus mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama. Karena ASI adalah sumber gizi terbaik untuk bayi, membantu pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Setelah enam bulan, ASI tetap diberikan bersama makanan pendamping ASI (MPASI).

Selanjutnya Makanan Pendamping ASI (MPASI), yang diberikan harus berkualitas.

“Ibu perlu diajarkan cara menyiapkan dan memberikan MPASI yang benar agar anak mendapatkan gizi seimbang,” ujarnya.

Dalam hal ini  edukasi dan konseling dari petugas kesehatan sangat penting. 

“Mereka harus secara terus-menerus memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu tentang pentingnya gizi dan cara memberikan makanan yang benar. Orang tua perlu dibekali pengetahuan tentang cara mencegah stunting dan pentingnya gizi seimbang,” katanya.

Peran ahli gizi harus secara terus-menerus memberikan bimbingan terkait makanan yang baik bagi ibu dan anak. Edukasi yang konsisten dan komprehensif akan membantu ibu-ibu memahami dan menganggap penting upaya pencegahan stunting. 

Menurutnya, pencegahan stunting yang dimulai sejak kehamilan dan dilakukan secara berkelanjutan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah stunting terjadi.

“Dengan langkah-langkah ini, kita dapat bersama-sama mencegah stunting dan memastikan masa depan anak-anak lebih baik,” ucapnya. 

Lanjutnya, dengan pelatihan ini maka diharapkan petugas kesehatan paham betul bagaimana caranya atau prosedur pemberian makanan bagi anak bayi, supaya tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Peserta pelatihan ini nanti akan memberikan penjelasan kepada masyarakat, karena masyarakat kita banyak yang belum paham benar tahapan-tahapan pemberian makanan. Nah kalau kita tidak diberikan makanan sesuai dengan tahapannya ini juga bisa jadi masalah misalnya bati harusnya masih ASI sudah dikasih susu formula. Ini bisa menyebabkan bayi-balita itu bukannya bertambah berat tapi menimbulkan masalah gizi,” tutupnya. (Linda)