KONFLIK – Tampak terlihat konflik antar warga di Kampung Wakia, Rabu (28/8). (FOTO: IST/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Sejumlah rumah di Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah, Mimika-Papua Tengah dibakar massa pada Rabu (28/8).

Kapolres Mimika, AKBP I Komang Budiartha kepada awak media di Kantor Pelayanan Polres Mimika pada Kamis (29/8) menjelaskan, kejadian itu sudah terjadi sejak dua bulan terakhir terkait tapal batas antara Kabupaten Deiyai, Dogiyai dan Mimika.

“Kita sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah, Pj. Gubernur Papua Tengah, sehingga pemerintah tiga kabupaten tersebut akan melakukan musyawarah bersama di Timika,” jelasnya.

Kapolres mengungkapkan, sebelum terjadinya konflik itu pihaknya sudah melakukan monitoring terhadap pergerakan masyarakat Deiyai dan Dogiyai yang akan turun di Kampung Wakia semenjak tiga minggu lalu.

“Memang ada permasalahan aktivitas tambang ilegal disana. Dua Minggu lalu itu, saya sudah perintahkan agar tambang tersebut harus ditutup, dan hal itu sudah disampaikan kepada kepala kampung dan suku di Wakia,” ungkapnya.

Selain itu juga, AKBP I Komang Budiartha juga menuturkan bahwa semua alat yang sering digunakan di tambang ilegal tersebut sudah diturunkan ke Kampung Wakia.

“Konflik itu terjadi lantaran ada perselisihan antara masyarakat Suku Mee dan masyarakat di Kampung Wakia. Dan semua yang dibakar itu merupakan aset milik kepala Kampung Wakia,” tuturnya.

Atas peristiwa tersebut, puluhan personel Polres Mimika dan Sat Brimob B Pelopor Polda Papua diterjunkan ke lokasi kejadian guna melakukan pengamanan.

“Ada 27 personel sudah dikerahkan ke sana hari ini guna melakukan pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolsek Mimika Barat, Ipda Jamiludin,” jelasnya.

Ditambahkannya, masyarakat di Kampung Wakia setelah kejadian tersebut sudah mengungsi ke arah pesisir.

“Kita sudah imbau ke masyarakat yang melakukan aktivitas di tambang ilegal agar meninggalkan lokasi semenjak dua Minggu lalu,” terangnya.

Berdasarkan video yang diterima Timika eXpress, terlihat satu rumah yang terbakar diduga milik kepala Kampung Wakia. (glt)