DAMPINGI – Nahkoda KM Putra Kwantan, Basyir, saat mendampingi ABK Suriadi. (FOTO: GREN/TIMEX)

TIMIKA, timikaexpress.id – Tiga jam terombang-ambing sendirian di laut lepas, berpegangan pada kantong plastik putih bening, menjadi pengalaman paling menegangkan dalam hidup Suriadi (47).

Anak Buah Kapal (ABK) KM Putra Kwantan itu akhirnya ditemukan selamat oleh nelayan setempat, setelah sempat dilaporkan hilang pasca kapal yang ditumpanginya terbalik dihantam ombak di perairan Laut Arafura.

Insiden tersebut terjadi pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 18.30 WIT di koordinat 04°58.048’ LS – 136°37.194’ BT.

KM Putra Kwantan yang membawa 13 orang awak terbalik akibat gelombang tinggi, memisahkan Suriadi dari rekan-rekannya di tengah laut.

Kepada Timika eXpress usai mengikuti konferensi pers di ruang rapat Mako Lanal Timika, Selasa (20/1/2026), Suriadi menceritakan detik-detik saat dirinya terpisah dari kapal.

“Saat kejadian saya kaget, air langsung masuk dan saya terbawa keluar bersama air laut,” ungkapnya.

Saat berhasil muncul ke permukaan, kapal sudah berada cukup jauh.

Dalam kondisi panik dan kelelahan, Suriadi berusaha bertahan hidup dengan berenang seadanya hingga akhirnya menemukan kantong plastik putih bening yang mengapung.

“Kantong plastik itu saya jadikan pelampung. Saya pegang terus supaya tidak tenggelam,” katanya lirih.

Pria asal Kalimantan Barat itu mengaku terombang-ambing di laut selama sekitar tiga jam, sebelum akhirnya diselamatkan oleh sebuah kapal nelayan jenis kolekting sekitar pukul 21.00 WIT.

“Saya terombang-ambing sekitar tiga jam di laut hanya dengan pelampung plastik,” jelasnya.

Suriadi menuturkan, dirinya telah enam bulan bekerja sebagai ABK KM Putra Kwantan bersama 12 rekannya untuk mencari nafkah demi menghidupi anak dan istrinya yang tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

Akibat kejadian tersebut, ia juga kehilangan alat komunikasi karena telepon genggamnya ikut tenggelam bersama kapal.

“Saat ini saya putus komunikasi dengan keluarga di Jawa karena HP tenggelam. Tapi itu tidak saya pikirkan lagi, yang penting saya masih hidup dan selamat,” ujarnya.

Peristiwa ini menambah daftar kisah dramatis penyelamatan korban kecelakaan laut di perairan Arafura, sekaligus menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi para nelayan dalam mencari nafkah di tengah cuaca ekstrem. (via)