FOTO BERSAMA – Project Manager Yayasan RUMSRAM, didampingi Direktur Yayasan RUMSRAM, Isak Matarihi, dan Wakil Ketua Pengurus YPMAK Bidang Perencanaan Program, Feri Magai Uamang, serta perwakilan Pemkab Mimika, foto bersama usai pembukaan kegiatan, Selasa (10/2/2026). (FOTO:YUDITH/TIMEX)
TIMIKA, timikaexpress.id — Upaya membangun hidup sehat dari kampung terus digencarkan.
Yayasan RUMSRAM bersama Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, menggelar Coaching Pelatihan Fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) selama dua hari, 10–11 Februari 2026, di Timika.
Pelatihan ini menjadi bekal penting bagi para fasilitator sebelum turun langsung ke kampung-kampung untuk mendampingi perubahan perilaku sanitasi warga.
Project Manager Yayasan RUMSRAM, Timotius Rumansara, mengatakan sejak 2024 pihaknya terlibat dalam Program Kampung Sehat.
“Pelatihan ini bukan sekadar teori, tetapi menyiapkan cara pendekatan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat di kampung masing-masing,” ujarnya.
Sebanyak 15 kampung menjadi sasaran pendampingan.
Tiga tim diterjunkan dengan dukungan sembilan fasilitator yang dibekali strategi komunikasi, khususnya terkait pembangunan jamban dan peningkatan kebersihan lingkungan.
Di Papua, RUMSRAM juga terus mendorong pelaksanaan Program STBM.
Lima kampung di Mimika, yaitu Mioko, Aikawapuka, Amungun, Emkomahalama, dan Kampung Ohotya, telah berhasil mencapai status Open Defecation Free (ODF).
Direktur Yayasan RUMSRAM, Isak Matarihi, menjelaskan STBM merupakan program Kementerian Kesehatan yang menitikberatkan pemberdayaan masyarakat.
“Perubahan perilaku tidak bisa instan. Kami memilih jalan dialog, membangun kepercayaan, dan melibatkan tokoh kampung,” katanya.
Program ini sebelumnya telah dijalankan di Biak dan Jayapura dengan dukungan UNICEF dan mitra lokal.
Di Mimika, RUMSRAM bekerja bersama YPMAK.
Sementara Wakil Ketua Pengurus YPMAK Bidang Perencanaan Program, Feri Magai Uamang, menyebut persoalan sanitasi masih menjadi tantangan besar di wilayah pedalaman maupun pesisir.
“Kebiasaan turun-temurun tidak mudah diubah. Tapi lewat pendekatan budaya dan kerja bersama, kami yakin pelan-pelan bisa berubah,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para fasilitator diharapkan mampu memperkuat komunikasi dengan warga dan menumbuhkan kesadaran kolektif.
Dari kampung-kampung kecil, perubahan mulai dirintis, bukan hanya membangun jamban, tetapi membangun cara hidup sehat demi masa depan Mimika yang lebih baik. (a70/a71)








Tinggalkan Balasan