RSMM – Nampak suasana di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, Selasa (10/2/2026). ( Insert-Direktur RSMM, dr. Henry Roy, Sp.B)

TIMIKA, timikaexpress.id – Di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), denyut pelayanan kesehatan tak pernah berhenti.

Sejak berdiri pada 1999, rumah sakit milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, ini memikul mandat sosial untuk melayani masyarakat luas.

Kini, di usia lebih dari dua dekade, RSMM terus bergerak maju.

Renovasi ruang perawatan dilakukan, standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan dipenuhi, dan langkah menuju kemandirian finansial terus disiapkan.

Ini semua demi menghadirkan layanan yang semakin manusiawi.

Dengan kapasitas 128 tempat tidur, RSMM ditopang empat spesialis dasar, yaitu bedah, kebidanan dan kandungan, penyakit dalam, serta anak, ditambah sejumlah spesialis penunjang.

Sekitar 15 dokter spesialis, 12 dokter umum, serta kurang lebih 300 perawat menjadi tulang punggung pelayanan harian.

“Kami berkomitmen melayani masyarakat dengan sepenuh hati, sesuai moto Rumah Sakit Mitra Masyarakat,” kata Direktur RSMM, dr. Henry Roy, Sp.B, Selasa (10/2/2026).

Lahir dari Kolaborasi untuk Masyarakat

RSMM lahir dari semangat kolaborasi antara Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI), yang kini bertransformasi menjadi YPMAK—bersama Pemerintah Kabupaten Mimika dan Keuskupan Jayapura.

Dukungan dana kemitraan PT Freeport Indonesia melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) menjadi fondasi penting berdirinya rumah sakit ini pada 1999.

“Sejak awal, rumah sakit ini hadir untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat setempat,” ungkap dr. Henry Roy.

Renovasi Bangsal Demi Standar dan Martabat Pasien

Upaya pembenahan terus dilakukan, termasuk rehabilitasi bangsal perawatan yang dikerjakan oleh CV Inamon Nale Antobar dengan masa pelaksanaan 90 hari kalender.

Renovasi dilakukan bertahap, dimulai dari Bangsal Anna (ibu bersalin), Bangsal Antonius (anak), Bangsal Lukas (bedah), serta Intensive Care Unit (ICU).

Saat ini, Bangsal Theresia yang menangani layanan pasien penyakit dalam masih dalam proses pengerjaan dan menjadi fokus berikutnya.

Namun pembaruan ini bukan sekadar soal estetika.

Seluruh ruang disesuaikan dengan 12 kriteria KRIS BPJS Kesehatan, meliputi pengaturan jumlah tempat tidur, jarak antarbed, pencahayaan, kelembaban ruangan, hingga ketersediaan oksigen sentral.

Akses kamar mandi turut dibenahi.

Pintu diperlebar agar kursi roda dapat masuk, toilet duduk dipasang sesuai standar, tirai diganti, serta tata ruang ditata ulang demi keselamatan dan kenyamanan pasien.

“Sekitar 60 hingga 70 persen standar sudah kami penuhi. Kami terus berproses agar seluruh ruangan sesuai ketentuan sebelum target nasional Juni 2026,” ujar dr. Henry.

Setelah bangsal penyakit dalam rampung, renovasi akan dilanjutkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang perawatan lainnya.

Lebih dari sekadar regulasi, pemenuhan KRIS dipandang sebagai wujud penghormatan terhadap martabat pasien.

“RSMM terus melangkah maju agar masyarakat tidak hanya sembuh, tetapi juga merasa dihargai dan diperhatikan,” pungkasnyan.

Peremajaan Alat Medis Jadi Agenda Penting

Selain bangunan, alat kesehatan dan utility pun tak luput dari perhatian.

Sejumlah peralatan kini berusia hampir setua rumah sakit.

Prioritas pengadaan meliputi ventilator bayi untuk unit NICU, defibrillator di IGD dan ICU yang telah digunakan lebih dari dua dekade, pembaruan sistem kelistrikan, serta sistem pengolahan limbah medis.

,”Setiap tahun, YPMAK mengalokasikan dana kapital untuk peremajaan tersebut, meski dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan dan proses panjang pembenahan, lanjut dr. Henry, RSMM terus melangkah, menjaga denyut pelayanan kesehatan bagi masyarakat Mimika, merawat harapan hari ini, sembari menata masa depan yang lebih layak bagi generasi mendatang.

Fluktuasi Pasien di Tengah Pekerjaan Renovasi

Dalam kondisi normal, RSMM melayani sekitar 5.000–6.000 pasien rawat jalan per bulan termasuk IGD, serta 900–1.000 pasien rawat inap.

“Puncak kunjungan tercatat pada 2023,” beber dr. Henry.

Namun selama 2025, jumlah pasien sempat menurun seiring renovasi yang mengurangi kapasitas sementara.

“Tiga ruang perawatan sudah selesai Desember lalu, satu masih proses. Januari ini kami masih menunggu data final,” jelasnya.

Ke depan, setelah seluruh bangsal rampung, kapasitas layanan diharapkan kembali optimal.

Mandat Sosial dan Jalan Menuju Kemandirian

Sejak awal berdiri, RSMM memegang mandat sosial untuk melayani masyarakat. Namun keberlanjutan rumah sakit juga harus dijaga.

Pendanaan berasal dari dana kemitraan pemilik, klaim jaminan YPMAK, subsidi, BPJS Kesehatan, asuransi, hingga pasien umum.

Harapannya, dua misi besar, yakni pelayanan sosial dan kemandirian finansial, ini dapat berjalan seiring demi pelayanan yang berkelanjutan. (*)

Penulis: Yudith Sanggu / Sarah

Editor  : Maurits Sadipun