Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD Amandus Rahadat

TIMIKA, timikaexpress.id — Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD Amandus Rahadat menegaskan posisi netral Gereja Katolik, menanggapi pesan whatsapp dari anggota Satuan Tugas (Satgas) Damai Cartenz.

Pastor Amandus mengungkapkan kalau dalam pesan WhatsApp yang tersebut meminta dirinya memberikan testimoni dukungan terhadap Satgas Damai Cartenz dan penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Pesan tersebut diterima pada Sabtu malam (7/2/2026) dan diumumkanya kepada umat Katolik dari mimbar Gereja Katedral Tiga Raja pada akhir misa Minggu (8/2/2026).

Dalam pesan itu, pengirim yang mengaku sebagai Bripda Irgi dari Kepolisian di Satgas Damai Cartenz menyampaikan permohonan testimoni tentang pesan kedamaian di Papua serta dukungan terhadap aparat keamanan, bahkan menyebut naskah testimoni telah disiapkan.

“Ijin perkenalkan saya Bripda Irgi dari Kepolisian dalam Satgas Damai Cartens yang ditugaskan di Timika.

Ijin Bapak, saya (Bripda Irgi-Red) dapat nomor Bapak dari Sekretariat Gereja Katedral Kota Raja.

Tujuan saya ingin meminta testimoni, pendapat dan seruan untuk membawa pesan keramaian di wilayah Papua serta dukungan untuk Satgas Damai Cartens dalam melakukan penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Mohon kiranya Bapak (Pastor Amandus-Red) bersedia dan berkenan dalam memberikan testimoni tersebut, dan untuk naskah sudah kami siapkan.

“Jika Bapak bersedia dan berkenan, besok kami ambil testimoninya di Gereja Katedral ataupun di kediaman Bapak, ijin’.

Demikian isi pesan whatsapp yang diterima Pastor Amandus

Menanggapi pesan tersebut, Pastor Amandus menyampaikan sejumlah catatan.

Pertama, ia menegaskan bahwa Keuskupan Jayapura hanya memiliki satu katedral, yakni Katedral Kristus Raja Dok V.

“Tidak ada katedral Kota Raja,” tegasnya.
Sedangkan di Keuskupan Timika, lanjutnya, hanya ada Katedral Tiga Raja.

Kedua, Pastor Amandus menyampaikan kondisi kesehatannya yang baru keluar dari Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) dan sedang diupayakan untuk rujukan.

Ketiga, ia menekankan bahwa dalam Gereja Katolik terdapat hierarki.

“Seorang pastor paroki tidak bisa melangkahi pimpinan dalam memberikan testimoni atas nama gereja. Usul saya, silakan menghubungi pimpinan keuskupan di kantor keuskupan,” ujarnya.

Pastor Amandus juga menyoroti umat Katolik yang berprofesi sebagai anggota kepolisian yang mengikuti misa secara langsung maupun melalui siaran daring.

“Gereja punya posisi tidak memihak ke KKB, juga tidak memihak kepolisian,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa gereja berada di tengah dan menolak diminta membaca naskah testimoni yang telah disiapkan.

“Seakan-akan Anda memaksa gereja mengikuti apa yang Anda mau. Maaf, tidak,” katanya.

Pastor Amandus menegaskan bahwa khotbah yang disampaikannya pada 4 Januari lalu berisi pesan agar negara menyelesaikan persoalan Papua dari akar.

“Gereja bukan pemadam kebakaran. Polisi juga bukan. Satgas Damai Cartenz juga bukan. Sampaikan kepada pimpinan bahwa masalah ini ada akarnya dan harus diselesaikan dari akar,” ujarnya.

Ia menyebut gereja telah menyampaikan lima pokok persoalan terkait kondisi Papua yang perlu ditangani secara menyeluruh.

Pastor Amandus juga mengungkapkan bahwa pesan WhatsApp tersebut telah dilaporkan kepada Uskup Timika.

“Kalau mau minta testimoni, lapor ke Uskup, pimpinan kami. Gereja Katolik ada hierarki. Pastor bisa bersuara, tapi sesuai versi gereja, bukan membaca redaksi yang Anda siapkan,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Pastor Amandus mengajak umat mendoakan para pastor yang bertugas di pedalaman Papua.

“Saya di sini aman, tapi teman-teman pastor di pedalaman betul-betul berada dalam tekanan. Kita doakan supaya mereka tetap kuat,” ujarnya. (vis)