FOTO BERSAMA –  Elly Dolame, Maico Gobay dan Gilbert Faith selaku pendiri YHPC Mimika, foto bersama di ruangan kursus komputer YHPC di Jalan Leo Mamiri. (FOTO: MAURITS SADIPUN)

TIMIKA, timikaexpress.id – Tidak semua mimpi lahir dari ruang kelas ber-AC atau gedung pendidikan yang megah.

Di Mimika, mimpi itu justru tumbuh dari keterbatasan, dari keyakinan bahwa pendidikan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang hidup di pinggiran.

Keyakinan itulah yang menggenggam langkah Elly Dolame, Maico Gobay, dan Gilberth Faith.

Tiga anak muda asli Papua ini mungkin hanya lulusan SMA, namun semangat mereka melampaui sekat ijazah.

Dengan tekad pengabdian, mereka memilih jalan sunyi, merintis pendidikan bagi sesama, khususnya putra-putri Papua di tanah Amungsa.

Dari mimpi sederhana itulah lahir Yayasan Honai Peduli Cerdas (YHPC), payung bagi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bahasa Inggris dan Komputer yang kini beralamat di Jalan Leo Mamiri.

Sebuah ruang belajar kecil yang menyimpan harapan besar.

“Secara pendidikan formal, saya hanya sampai SMA. Saya pernah kuliah di Jawa, tapi tidak sampai selesai,” tutur Maico Gobay, salah satu pendiri.

“Tapi kami sadar, pengalaman dan kemampuan tidak boleh disimpan sendiri. Lebih baik dibagikan.”

Dari Kos Sederhana di Jalan Malcon

Perjalanan itu dimulai pada Mei 2022, saat lembaga ini masih bernama AFES (Amungsa Foundation English School).

Tidak ada gedung tetap. Tidak ada fasilitas lengkap.

Proses belajar mengajar berlangsung sederhana, menumpang di sebuah rumah kos di Jalan Malcon, Timika Indah.

Di ruang sempit itulah anak-anak belajar mengenal bahasa Inggris dan komputer, dua keterampilan yang nyaris asing bagi banyak anak dari wilayah pedalaman.

“Banyak peserta datang dari daerah seperti Jila dan distrik pesisir,” kenang Elly Dolame.

“Di sana jaringan terbatas, guru bahasa Inggris hampir tidak ada, komputer pun belum pernah mereka sentuh.”

AFES kala itu hadir bukan untuk menggantikan sekolah formal, melainkan mengisi ruang kosong yang selama ini terabaikan.

Pesertanya beragam, mulai dari murid SD, SMP, SMA, mahasiswa, bahkan orang tua dan pekerja.

Di sini, pendidikan bersifat inklusif, siapa pun boleh belajar.

Bekal Kecil untuk Masa Depan Besar

Program yang ditawarkan disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Anak-anak sekolah lebih banyak memilih bahasa Inggris, sementara pekerja dan masyarakat umum mengambil kursus komputer.

Materi bahasa Inggris disusun bertahap, mulai dari kosakata, tata bahasa, penguasaan 15 tenses, hingga empat keterampilan utama, listening, speaking, reading, dan writing.

Adapun sertifikat yang dikeluarkan YHPC tidak diberikan sekadar formalitas.

“Bukan hanya dapat kertas, tapi harus bisa pakai ilmunya,” ujar Elly.

Hasilnya perlahan terlihat. Sejumlah peserta mengaku lebih percaya diri melanjutkan pendidikan, mencari pekerjaan, atau berinteraksi dengan dunia luar.

Bertahan Tanpa Gaji Tetap

Di balik semangat itu, tantangan tak pernah surut.

Hingga kini, YHPC belum mampu memberikan gaji tetap bagi para tutor, diantaranya Melki Tatogo, Arnold Pekey, Kristin Y. Waromi, Santi K. Ginuny, Yulince Pakage, dan Semuel Adii.

Mereka mengajar dengan keterbatasan, digerakkan oleh kepedulian.

“Kami bukan cari untung,” kata Maico lirih. “Tapi tentu ke depan kami ingin guru-guru juga sejahtera.”

Perlahan, upaya keberlanjutan mulai dibangun.

AFES berkembang menjadi yayasan dengan legalitas resmi.

Mereka membuka ruang kemitraan dengan pemerintah, perusahaan, dan lembaga sosial, termasuk YPMAK.

Dukungan APBD Provinsi Papua Tengah pada masa kepemimpinan Pj Gubernur Dr. Ribka Haluk tahun 2023 lalu menjadi salah satu tonggak penting, memungkinkan pembangunan fasilitas yang kini digunakan.

Sebuah gedung berdiri megah dengan tiga ruangan yang dilengkapi meubeler dan lebih 10 unit komputer, tempat meniti masa depan anak-anak Amungsa serta lima suku kekerabatan lainnya.

YHPC kini menawarkan materi pelatihan Bahasa Inggris, meliputi vocabulary, grammar, practice reading, wraiting, listening, speking, 16 tense dan public speaking.

Sementara materi kursus computer meliputi pengenalan perangkat komputer, fungsi tombol keyboard,hardware, software, MS word, exel, MS power point, kelincahan pengetikan 10 jari, dan cara penulisan surat yang benar.

Bagi yang berminat bisa langsung kontak di nomor ponsel 0821 9922 0541 / 0813 5400 6420.

Meski lahan dan bangunan merupakan milik pribadi, ruang itu dibuka sepenuhnya untuk kepentingan bersama.

Hampir 100 Orang, Satu Harapan

Sejak 2022 hingga 2024, hampir 100 peserta telah mengikuti pelatihan di AFES. Dalam tiga bulan terakhir, 10 peserta baru kembali mendaftar mahasiswa, pekerja, dan masyarakat umum.

“Harapan kami sederhana,” ucap Elly.
“Supaya generasi ini bisa lebih baik dari kami.”

Mimpi Kampung Inggris di Papua

Di antara semua rencana, tersimpan satu mimpi besar: membangun Kampung Inggris di Papua, tepatnya di Mimika.

“Selama ini orang hanya mengenal Kampung Inggris di Jawa atau Sumatera,” tegas Maico. “Papua juga harus punya.”

Bagi mereka, Kampung Inggris bukan sekadar pusat bahasa, melainkan ruang tumbuh kepercayaan diri, simbol bahwa anak-anak Papua tidak tertinggal, tetapi siap bersaing.

“Kami ingin anak-anak Papua bukan datang paling belakang,” tambah Gilberth Faith, “tetapi maju ke depan.”

Pendidikan sebagai Tindakan Cinta

AFES tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari cinta pada generasi.
Dari kesadaran bahwa pendidikan bukan semata soal gelar, tetapi tentang keberanian berbagi dan kesetiaan pada mimpi.

Di Mimika, dari ruang belajar sederhana, mereka menanam harapan: bahwa suatu hari, anak-anak Papua akan berbicara kepada dunia, dengan bahasa mereka sendiri, dan dengan bahasa dunia. (Maurits Sadipun)