HARAPAN PENDIDIKAN — Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menyalami murid SD di Mapia usai meletakkan batu pertama pembangunan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi di Mapia, Dogiyai, Senin (7/9/2026). (FOTO:HUMAS PEMPROV PAPUA TENGAH)
DOGIYAI, timikaexpress.id — Diyoudimi, kawasan di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, menyimpan cerita tentang tanah dan manusia yang terus bergerak bersama zaman.
Pada Senin (7/9/2026), Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa datang ke kawasan itu dalam agenda kunjungan kerja.
Ia meletakkan batu pertama pembangunan gedung dan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi.
Bagi masyarakat, pembangunan tersebut bukan sekadar tentang berdirinya sebuah gedung sekolah.
Di balik dinding dan ruang kelas yang kelak dibangun, ada harapan anak-anak untuk memperoleh pendidikan, harapan orang tua melihat masa depan yang lebih baik, serta cita-cita masyarakat Mapia untuk melahirkan generasi yang mampu membangun daerahnya.
Diyoudimi juga memiliki potongan sejarah yang masih dikenang masyarakat.
Sekitar 1990, ketika Papua masih menjadi satu provinsi, Bupati Kabupaten Nabire saat itu, Yusuf Adipata, pernah berkunjung dalam kegiatan yang dikenal sebagai “panen raya kacang”.
Lebih dari tiga dekade berlalu.
Wajah pembangunan berubah dan harapan masyarakat pun berkembang.
Jika dahulu Diyoudimi dikenal melalui hasil buminya, kini ada hasil lain yang ingin dipanen, yakni manusia yang tumbuh melalui pendidikan.
Sekolah dan Harapan
Anton M. Degei, pemerhati pendidikan dan mantan Kepala Sekolah SD YPPK Putapa, melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Menurut dia, hasil pendidikan tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat.
Seorang anak yang hari ini duduk di ruang kelas bisa tumbuh menjadi guru, tenaga kesehatan, profesional, pengusaha, aparatur pemerintahan, pemimpin masyarakat, atau kembali mengabdikan diri bagi kampung dan daerah asalnya.
Karena itu, pembangunan sekolah tidak berhenti pada pembangunan gedung.
Fasilitas pendidikan memang penting, tetapi harus berjalan bersama kualitas guru, lingkungan belajar yang baik, dukungan keluarga, dan keterlibatan masyarakat.
Sekolah menjadi tempat anak-anak belajar membaca masa depan.
Namun, keluarga dan masyarakatlah yang ikut menentukan apakah harapan itu dapat tumbuh dan bertahan.
Mimpi Generasi Mapia
Pesan itu juga disampaikan Meki Nawipa saat berada di Mapia.
Ia mendorong generasi muda memanfaatkan pendidikan sebagai jalan untuk mempersiapkan diri mengambil peran dalam pembangunan daerah.
“Saya ingin orang Mapia harus maju, harus pintar, dan maju menjadi orang Mapia yang hebat dan tangguh,” ujar Meki.
Harapan itu membuat pembangunan SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi memiliki makna yang lebih panjang daripada sekadar pembangunan fisik.
Gedung mungkin dapat berdiri dalam hitungan bulan atau tahun.
Namun, membentuk manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Anak-anak yang hari ini mengenakan seragam sekolah bisa menjadi guru, dokter, pengusaha, profesional, aparatur pemerintahan, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin Papua di masa depan.
Karena itu, pendidikan juga membutuhkan peran orang tua.
Anak-anak perlu didorong untuk bersekolah dan menyelesaikan pendidikan, sekaligus mengenal agama, menghargai adat dan budaya, menjaga kesehatan, serta berani memiliki cita-cita.
Pendidikan pertama tumbuh dari keluarga, kemudian diperkuat sekolah dan lingkungan masyarakat.
Di situlah guru, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah memiliki peran yang saling melengkapi.
Menjaga yang Sudah Dibangun
Bagi Meki, pembangunan juga membutuhkan rasa aman dan dukungan masyarakat.
Ia meminta berbagai hal yang dapat menghambat pembangunan ditinggalkan sehingga pembangunan di Mapia dapat berjalan lancar.
“Saya merekomendasikan sejumlah hal yang menghalangi pembangunan. Mohon diusir, dijauhkan dan ditinggalkan hal-hal tersebut, agar setiap pembangunan di Mapia selalu lancar dan aman,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya berada di tangan pemerintah.
Ketika gedung sekolah selesai dibangun, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
Ketika anak-anak mulai belajar, lingkungan yang aman dan kondusif dibutuhkan agar mereka dapat tumbuh dengan baik.
Dari Panen Kacang ke Panen Generasi
Jika sekitar 1990 Diyoudimi dikenang melalui “panen raya kacang”, maka 2026 menghadirkan cerita yang berbeda.
Kali ini yang ditanam bukan hanya benih di tanah, tetapi juga harapan melalui pendidikan.
Hasilnya mungkin belum terlihat hari ini.
Bahkan, bisa jadi membutuhkan waktu puluhan tahun untuk melihat hasilnya.
Namun, dari ruang-ruang kelas di Mapia, anak-anak akan tumbuh membawa mimpi masing-masing.
Sebagian mungkin menjadi guru. Sebagian lainnya menjadi tenaga kesehatan, pengusaha, birokrat, profesional, pemimpin masyarakat, atau mengabdikan diri kembali kepada tanah kelahirannya.
Karena itu, pertanyaan tentang Diyoudimi kini bukan hanya tentang apa yang dapat dipanen dari tanahnya.
Pertanyaannya adalah generasi seperti apa yang akan lahir dari sana.
Diyoudimi sedang menanam manusia.
Panennya mungkin masih jauh. Tetapi benih itu sudah ditanam, dan kini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya agar tumbuh. (*)








Tinggalkan Balasan