PERSAUDARAAN LINTAS IMAN – RD Amandus Rahadat saat memimlin Misa Inkulturasi Flobamora di Katedral Tiga Raja Timika, Minggu (9/8/2026). (FOTO:IST)
MIMIKA, timikaexpress.id – Pesan damai dan persaudaraan mengemuka dalam Misa Inkulturasi Flobamora di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Minggu (9/8/2026).
Misa Minggu ke-XIX yang dipimpin RD Amandus Rahadat, Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, berlangsung khidmat dalam nuansa budaya Flobamora melalui busana adat serta lagu-lagu liturgi berbahasa daerah.

Dalam homilinya berdasarkan Injil Matius 14:22-33 tentang Yesus berjalan di atas air, RD Amandus mengajak umat meninggalkan ketakutan, kecurigaan, dan prasangka terhadap sesama.
Ketika para murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka panik dan berteriak, “Hantu!”. Namun, Yesus menjawab, “Tenanglah, ini Aku, jangan takut.”
Menurut RD Amandus, pesan tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat di Tanah Papua yang masih menghadapi berbagai ketegangan sosial dan politik.
“Ketenangan adalah tanda kehadiran Tuhan. Keributan dan kegaduhan hanya membawa ketakutan serta merusak kedamaian hidup,” ujarnya.
Ia mengatakan, ketegangan dapat melahirkan stigma antarkelompok.
Ketika Orang Asli Papua (OAP) merasa tersingkir, terancam kehilangan tanah hak ulayat atau aspirasinya tidak didengar, orang pendatang dapat dipandang sebagai ancaman.
Sebaliknya, ketika orang pendatang merasa tidak aman atau khawatir akan diusir, OAP juga dapat dipandang sebagai ancaman.
“Dalam kondisi panik, orang baik bisa disebut jahat. Dalam kondisi kacau, penyelamat bisa disebut pengacau. Dalam kondisi marah, OAP disebut separatis, dan dalam kondisi kecewa, orang pendatang disebut penjajah,” katanya.
Karena itu, RD Amandus mengingatkan umat agar tidak menilai seseorang berdasarkan suku atau asal-usulnya.
“Jangan menilai baik buruknya seseorang hanya berdasarkan suku atau asal-usulnya,” tegasnya.
Ia menggambarkan Tanah Papua seperti perahu di tengah laut politik yang bergelora, ketika berbagai kepentingan saling berbenturan dan melahirkan ketakutan.
Menurutnya, membalas “teriakan hantu” dengan teriakan yang sama tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi justru menambah masalah dan luka baru.
“OAP dan OYAME hendaknya saling menyapa. Polisi, tentara, dan masyarakat sipil hendaknya saling menyapa. ‘Tenanglah, saudaraku. Aku ini saudaramu. Jangan takut,” ujarnya.
RD Amandus mengajak umat meneladani sikap Yesus yang tetap tenang menghadapi kepanikan.
“Milikilah sikap Yesus yang tenang. Tenanglah, jangan takut. Aku ini,” katanya.
Persaudaraan Lintas Iman
Pesan persaudaraan juga tampak dalam perayaan Misa.
Warga Flobamora yang beragama Muslim turut terlibat dalam prosesi persembahan.

Ketua Flobamora Kabupaten Mimika, Gabriel Zeso, mengapresiasi keterlibatan tersebut sebagai bentuk persaudaraan lintas iman.
“Ini merupakan penghargaan yang luar biasa bagi kita dari saudara-saudara kita, warga Muslim asal NTT,” ujarnya.
Sementara Ketua Pemuda Flobamora, Jamaludin mengatakan Misa Inkulturasi bukan sekadar perayaan budaya, tetapi momentum mempertemukan iman dan identitas budaya.
“Berbeda pulau, berbeda dialek dan berbeda adat, tetapi dalam satu perayaan Ekaristi kita menjadi satu persekutuan. Perbedaan bukan jurang, melainkan warna yang menciptakan harmoni,” katanya.
Misa Inkulturasi Flobamora menjadi momentum memperkuat persaudaraan warga Flobamora sekaligus menyampaikan pesan bahwa perbedaan di Tanah Papua harus dirawat melalui dialog, penghormatan, dan kebersamaan. (Maurits Sadipun)












Tinggalkan Balasan