Forecaster BMKG Timika, Fitria Nur Fadlilah, S.Si
TIMIKA,timikaexpress.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Timika memprediksi bahwa kondisi cuaca di wilayah Mimika dan sekitarnya kini mulai kembali normal setelah sebelumnya dipengaruhi oleh gangguan atmosfer skala regional.
Untuk sepekan ke depan, BMKG Timika memprakirakan cuaca berada dalam kondisi relatif normal.
Pada pagi hingga siang hari cuaca cenderung cerah berawan hingga terasa gerah, sementara sore hari berpeluang terjadi hujan yang dapat disertai petir.
“Kami perkirakan dalam seminggu ke depan pola cuaca masih normal. Sore hari ada peluang hujan, bahkan bisa disertai kilat atau petir di beberapa titik,” kata Forecaster BMKG Timika, Fitria Nur Fadlilah, S.Si.
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem lokal, khususnya saat hujan lebat dan aktivitas petir, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG.
Fitria menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir wilayah Papua bagian selatan sempat mengalami suhu panas dan hembusan angin cukup kencang akibat kombinasi faktor global dan regional.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah posisi matahari yang pada bulan Januari cenderung berada di belahan bumi selatan dan bergerak menuju ekuator.
Kondisi tersebut membuat wilayah yang berada antara garis ekuator hingga 23,5 derajat lintang selatan, termasuk Mimika, Papua Tengah menerima energi panas matahari lebih besar dibandingkan daerah di utara ekuator.
“Wilayah Mimika berada di selatan garis ekuator, sehingga pada periode ini menerima radiasi matahari yang cukup tinggi. Itulah yang membuat suhu udara terasa lebih panas mencapai 35 derajat celsius,” ujar Fitria.
Selain itu, cuaca ekstrem beberapa hari lalu juga dipengaruhi oleh adanya pusat tekanan udara rendah di kawasan Pasifik tenggara Papua.
Perbedaan tekanan udara yang cukup besar memicu bertiupnya angin baratan, yaitu angin yang bergerak dari Benua Asia menuju Australia dengan intensitas cukup kuat melintasi wilayah Mimika.
“Semakin besar perbedaan tekanan udara antara dua wilayah, maka kecepatan angin juga akan meningkat. Saat pusat tekanan rendah berada dekat Papua, pengaruhnya di Mimika juga terasa kuat, termasuk angin kencang dan peningkatan uap air,” jelasnya.
Namun, Fitria menambahkan bahwa saat ini pusat tekanan rendah tersebut mulai menjauh dari Papua, sehingga pengaruhnya terhadap wilayah Mimika pun berangsur melemah.
“Karena sistem itu menjauh, tekanan udaranya juga tidak sekuat sebelumnya. Sekarang faktor-faktor lokal kembali lebih dominan dalam memengaruhi cuaca,” katanya.
Ia menerangkan bahwa secara lokal, cuaca Mimika banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis Papua bagian selatan yang berupa lautan dan wilayah utara yang bergunung-gunung.
Saat ini, kata Fitria, pada pagi hari, angin laut membawa uap air ke daratan menuju wilayah pegunungan di utara.
Ketika udara lembab tersebut naik akibat terhalang relief pegunungan, awan hujan pun terbentuk.
Biasanya, hujan lebih dahulu terjadi di wilayah utara Mimika, kemudian pada sore hingga malam hari, angin gunung bertiup ke arah laut dan membawa sistem awan ke wilayah perkotaan.
“Sekarang pola ini kembali bekerja. Jadi hujan lebih dipengaruhi proses lokal, bukan lagi gangguan skala besar seperti beberapa hari lalu,” ujarnya. (vis)







Tinggalkan Balasan