MENERIMAKAN – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, saat menerimakan Sakramen Krisma kepada salah seorang umat yang didampingi Supangat dan istrinya sebagai wali di Gereja Santo Stefanus Sempan, Minggu (18/1/2026). FOTO: ISTIMEWA)

TIMIKA, timikaexpress.id – Sebanyak 250 umat Katolik di Keuskupan Timika menerima Sakramen Krisma dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Santo Stefanus Sempan, Dekenat Mimika–Agimuga, Distrik Mimika Baru, Papua Tengah, Minggu (18/1/2026).

Sakramen Krisma tersebut diterimakan langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, pada Misa ketiga Hari Minggu Biasa II.

Tokoh umat Katolik yang juga Ketua Dewan Paroki Santo Stefanus Sempan, Supangat, bersama istrinya, dipercaya menjadi wali krismawan dan krismawati dalam perayaan sakramen tersebut.

Dalam homilinya, Mgr. Bernardus menegaskan bahwa hidup setiap orang berada dalam rencana Allah dan bukan sebuah kebetulan.

Setiap umat, khususnya para krismawan dan krismawati, dipanggil untuk menyadari perutusan hidupnya serta mengembangkan talenta dan tanggung jawab yang telah dianugerahkan Tuhan.

“Hidup kita adalah sebuah perutusan. iman, moral, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial harus terus diasah agar tidak menjadi tumpul,” tegas Uskup Timika.

Ia juga mengingatkan teladan Yohanes Pembaptis yang tidak menarik orang kepada dirinya, melainkan mengantar mereka kepada Kristus sebagai Guru Sejati.

Pertanyaan Yesus, “Apakah yang kamu cari?”, menurutnya menjadi refleksi bagi setiap orang beriman dalam menjalani hidup sesuai kehendak Allah.

Terkait Sakramen Krisma, Mgr. Bernardus menegaskan bahwa sakramen bukan sekadar simbol, melainkan tanda dan sarana kehadiran nyata Kristus melalui karya Roh Kudus.

Karena itu, umat Katolik dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, bukan sekadar Katolik identitas KTP atau seremonial.

“Setelah menerima Krisma, kalian harus berani mengatakan kebenaran, menolak kebohongan, kekerasan, dan segala bentuk ketidakadilan. Hak hidup adalah milik Allah, bukan manusia,” pesannya.

Ia juga mengajak umat untuk hidup dalam pembedaan roh, membiarkan Roh Kudus menuntun setiap keputusan hidup melalui doa yang tekun, termasuk membiasakan doa Novena Roh Kudus.

Menutup homilinya, Uskup Timika mengajak para krismawan dan krismawati untuk menghidupi iman yang telah diteguhkan.

“Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Itulah tujuan akhir seorang Katolik sejati,” pungkasnya. (vis)