Berita Timika

Wisuda untuk TK Hingga SMA jadi Sorotan, Sekdis: Atas Kesepakatan Orang Tua

Story Highlights
  • “Kita heran saja, kenapa anak SD harus wisuda. Padahal kita tahu yang wisuda itu untuk dunia perguruan tinggi saja,”

Fransiscus Bokeyau (FOTO: ELISA/TimeX)

TIMIKA, TimeX

Belakangan sejumlah orang tua dan masyarakat pada umumnya menyoroti acara penamatan yang dilaksanakan sejumlah sekolah dengan cara wisuda layaknya mahasiswa. Hal ini lantaran menimbulkan biaya tembahan bagi orang tua, untuk salon toga, sewa gedung hingga konsumsi.

Hal ini kemudian ditanggapi Fransiskus Bokeyau, Sekretaris Dinas Pendidikan Mimika. menurut dia, terkait fenomena pelaksanaan wisuda bagi anak TK,SD, SMP dan SMA di Timika memang tidak ada regulasi khusus bagi sekolah-sekolah. Hanya saja pelaksanaan wisuda merupakan pola yang dibangun atas kesepakatan antar orang tua dan pihak sekolah.

Meski wisuda dinilai sebagai motivasi guna menghargai jeri payah selama menjalankan pendidikan, akan tetapi tidak diwajibkan. Namun, untuk acara penamatan perpisahan itu harus dilakukan sebagai pergeseran dari usia bermain ke usia belajar bagi anak TK.

Sedangkan bagi tingkat SD,SMP, SMA/SMK itu sebagai perpisahan antar guru-guru dan murid yang tamat serta antar adik tingkat bersama kaka tingkat yang tamat.

“Yang jelas tidak ada regulasi khusus yang mengharuskan sekolah-sekolah TK, SD, SMP dan SMA/SMK itu lakukan wisuda. Tidak ada perintah dari dinas bahwa harus wisuda,” katanya saat dihubungi Timika eXpress, Senin (19/6).

“Yang boleh atau bisa dilakukan itu acara pelepasan atau penamatan saja dan itu digelar di lingkungan sekolah saja,” tambahnya.

Disampaikan juga tradisi wisuda yang sebelumnya hanya berlaku pada sekolah swasta tertentu saat ini mulai diikuti beberapa sekolah negeri. Padahal, wisuda harusnya hanya digelar untuk kelulusan orang yang menyandang gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi.

“Memang selama ini sudah ada sekolah negeri juga yang lakukan wisuda, tapi kita akan evaluasi supaya konsep itu dirubah,” katanya.

Sementara itu Jaya, salah satu warga mengatakan, tradisi yang dahulu hanya berupa acara perpisahan, kini berubah dengan gaya kelulusan para Sarjana perguruan tinggi. Dengan demikian, beban masing-masing orang tua bertambah dengan biaya menjahit pakaian wisuda, cinderamata akhir bagi guru-guru, tukar kado di antara anak-anak serta biaya salon kecantikan.

“Kita heran saja, kenapa anak SD harus wisuda. Padahal kita tahu yang wisuda itu untuk dunia perguruan tinggi saja,” ungkap seorang ibu rumah tangga yang mengaku anaknya telah diwisuda di salah satu SD di Timika.

Jaya mengaku bahwa pertemuan awal di sekolah anaknya tersebut disepakati hanya dilakukan acara syukuran dan pelepasan. Namun,  pertemuan berikutnya dari panitia mulai merubah konsep, yaitu diwisuda. Konsep tersebut sempat ditolak, akan tetapi lantaran lebih banyak orang tua yang setuju, maka panitiapun memutuskan untuk menetapkan acara perpisahan menjadi acara wisuda.

“Waktu pertemuan pertama ditentukan untuk acara perpisahan saja, sehingga  kami sebagai orang tua diharapkan berpartisipasi untuk biaya konsumsi saja. Kemudian diinformasikan lagi bahwa konsepnya jadi wisuda dan harus sewa gedung.

Memang lebih banyak orang tua yang setuju, tapi saya dan beberapa orang tua lainnya menolak, karena kita harus keluarkan biaya tambahan,” pungkasya. (kay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button