Berita Timika

SATP Keluhkan Asap Pembakaran Limbah Medis RSUD Mimika

PEMBAKARAN-Tampak tempat pembakaran limba medis RSUD Mimika (FOTO: YOSEF/TIMEX)

Dokter Anton: Polutan Asap Sudah Dihilangkan

TIMIKA, TimeX

Johana Tnunay, Kepala Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) mengatakan, bau asap yang sangat menyengat yang dihasilkan dari pembakaran limbah medis (Incinerator) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika sangat mengganggu anak-anak di asrama.

“Asap ini sangat menggangu anak-anak di asrama, kami tidak tau apakah asap ini berbahaya, tapi namanya bekas alat medis tentunya ada dampak kedepannya, dimana cerobong asapnya hampir sejajar dengan gedung sekolah,” kata Johana Tnunay, saat ditemui di SATP, Rabu (31/5).

Ia menjelaskan sudah menyampaikan keluhan ini kepada Direktur RSUD dan pihak RSUD mengupayakan pembakaran di malam hari yang sebelumnya dibakar siang hari tetapi hal itu dinilai tidak efektif.

“Awalnya pihak RSUD mengupayakan pembakaran di malam hari, tetapi sama saja tidak menyelesaikan masalah, karena siang hari anak-anak beraktifitas, malamnya anak-anak istirahat asapnya masuk sampai ke kamar, sangat tidak efektif,” jelasnya.

Sementara itu, Jesly Simon, Kepala Bagian Umum SATP mengatakan,  pihaknya berharap Dinas terkait bisa memikirkan solusi yang terbaik untuk asap yang dihasilkan dari pembakaran limbah ini.

“Kami berharap ada solusi dari Dinas Kesehatan, inikan juga mencakup masyarakat luas, karena di SP 4 kan pemukiman, mungkin bisa di buat pembakarannya di tempat terpencil,” ujarnya.

Terkait dengan itu, Dokter Anton Pasulu, Direktur RSUD Mimika kepada Timika eXpress mengatakan, penentuan titik tempat Incenerator (alat pembakaran sampah) di lokasi RSUD saat proses pembangunannya yang dimulai sejak 2006 sudah melalui kajian lingkungan yang ditandai dengan keluarnya ijin AMDAL RSUD.

Dalam perjalanannya sejak RSUD mulai beroperasi tahun 2008, pengoperasian insenerator pihak RSUD telah melakukan 2x penggantian mesin incenerator yaitu di Tahun 2011 dan 2018 yang sampai saat ini masih digunakan.

Adapun incenerator yang digunakan saat ini saya jelaskan secara singkat proses pembakarannya yakni, sampah yang dibakar akan dimasukkan kedalam ruang pembakaran dengan menggunakan alat, kemudian sampah akan melalui 2 ruang pembakaran yaitu pembakaran 1 dengan suhu 800°C – 1000°C.

Kemudian tahap berikutnya ke ruang pembakaran 2 dengan suhu 1000°C -1200°C, setelah itu asap yang dihasilkan akan masuk dalam ruang partikel separator siklon yang berfungsi untuk memisahkan partikel padat dan abu dengan gas.

Setelah itu katanya, akan melalui proses wet scrubber dimana akan dilakukan pemisahan lagi partikel debu dari asap dengan menggunakan cairan, sehingga menghilangkan polutan dari gas buangan dan sebelum dialirkan kecerobong akan disemprotkan air lagi melalui nozzle.

“Sehingga asap yang dihasilkan berupa uap air yang berwarna putih dan untuk menentukan asap hasil pembakaran sampah tersebut aman untuk lingkungan dilakukan uji emisi secara berkala oleh PT Sucofindo dan hasilnya memenuhi standar kelayakan,” jelasnya.

Lanjutnya, tepat dibelakang lokasi incenarator adalah perumahan dokter spesialis yang sudah di tempati sejak 2008 (hampir 15 thun) dan belum ada keluhan mengenai asap incenerator tersebut, yang ada adalah keluhan bau menyengat dari kebun belakang dan samping RSUD serta SATP, bau menyengat tersebut bersumber dari pupuk organik dan semprotan bahan kimia tanaman.

“Hal ini kami rasakan setiap musim tanam dan saat penyemprotan tanaman dan sudah kami laporkan juga ke pihak terkait. Mengenai permasalahan pengelolaan limbah padat, kami akan terus menindaklajuti dengan melakukan kontrol secara berkala dan mencari solusi terbaik agar pelayanan kesehatan dapat tetap berjalan tanpa memberi dampak negatif ke lingkungan RSUD dan sekitarnya,” ungkapnya.

Sebagai contoh adalah menggunakan alat dengan teknologi terbarukan dan ramah lingkungan, kemudian mendorong pembangunan pengelolaan sampah ramah lingkungan terpusat khususnya sampah medis di Kabupaten Mimika.

“Sehingga dapat juga digunakan oleh seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten Mimika dan untuk permasalahan terkait keluhan pihak SATP akan segera kami koordinasikan bersama dan melibatkan pihak-pihak terkait, ” tutupnya. (acm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button