HUKRIM

Pledoi Belum Siap, Sidang Roy Ditunda

FOTO: GREN/TIMEX

SIDANG – Suasana sidang pembelaan dari penasehat hukum terdakwa dengan perkara mutilasi di Pengadilan Negeri Timika, Kamis (11/5).

TIMIKA, TimeX

Sidang lanjutan perkara pembunuhan disertai mutilasi dengan terdakwa Roy Marthen Howay alias Roy dengan agenda pembelaan dari Penasehat Hukum terdakwa Frengky Kambu, S.H yang digelar di Pengadilan Negeri Timika pada Kamis (11/5) ditunda.

Sidang pembelaan dipimpin Putu Mahendra, S.H, M.H, sebagai Hakim Ketua didampingi Muh. Khusnul F. Zainal S.H, M.H dan Riyan Ardy Pratama, S.H, M.H selaku Hakim Anggota dan Febiana Wilma Sorbu, S.H selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang pembelaan, terdakwa Roy Marthen Howay didampingi kuasa hukumnya Frengky Kambu, S.H.

Muh. Khusnul F. Zainal, S.H, M.H, Humas Pengadilan Negeri Timika saat ditemui Timika eXpress di PN Timika pada Kamis (11/5) mengatakan, sidang tersebut masih ditunda lantaran pledoi belum siap.

“Pledoi dari kuasa hukum terdakwa belum siap sehingga sidang ditunda. Sidang akan dilanjutkan pada Senin (15/5) 2023 dengan agenda pembelaan dari penasehat hukum terdakwa,” katanya.

Sebelumnya, dalam sidang tuntutan lalu JPU menuntut terdakwa Roy Marthen Howay alias Roy secara sah dan bersalah telah melakukan tindak pidana.

“Terdakwa Roy secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana. Mereka yang melakukan, menyuruh melakukan atau ikut melakukan perbuatan itu dengan sengaja merencakan terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, sebagaimana dimaksud dalam pasal 340 KUHP, Junto Pasal 55 Ayat (1) kesatu KUHP dalam dakwaan primer penuntut umum,” kata Fabiana.

Kata dia, hal-hal memberatkan perbuatan terdakwa adalah mengganggu stabilitas dan keamanan Timika. Perbuatan terdakwa mengandung sentiment, perlakukan diskriminatif, pembunuhan kekerasan terhadap orang berdasarkan identitas, keturunan, kesukuan, atau golongan tertentu. Perbuatan terdakwa dilakukan secara sadis, terdakwa pernah dihukum pada Tahun 2013, dan terdakwa tidak berterus terang didalam persidangan.

Sedangkan hal-hal yang meringankan yaitu terdakwa bersikap sopan dalam persidangan.

Dalam kronologis sebelumnya, terdakwa Andre Pudjianto Lee alias Jack (I), terdakwa Dul Umam alias Umam (II) dan terdakwa Rafles Lakasa alias Rafles (III) dan terdakwa Roy Marthen Howay alias Roy mengatakan bahwa pada 19 Agustus 2022 sekitar pukul 19.30 WIT saksi Mayor Inf. Helmanto Fransiskus Dhaki akan ditemui oleh saksi Kapten Dominggus Kainama, saksi Pratu Rahmat Amin Sese, saksi Pratu Robertus Putra Clinsman, saksi Pratu Rizky Oktav Muliawan di Asrama Brigif 20 IJK Mapurujaya.

Dalam pertemuan tersebut, saksi Kapten Dominggus Kainama menyampaikan ada informasi bahwa dari terdakwa Roy bahwa ada masyarakat yang mencari senjata api dan salah satu diantara mereka adalah target bernama Edison.

Kemudian saksi Mayor Inf. Helmanto Fransiskus Dhaki bertanya ‘kapan dan dimana dilakukan’, saat itu disampaikan di SP5 Timika. Setelah dilakukan survei tempat transaksi berubah akan dilakukan disekitar SP1 Timika.

Pada 19 Agustus 2022, saksi Kapten Dominggus Kainama mendapatkan informasi dari saksi Pratu Rahmat Amin Sese bahwa ada masyarakat Orang Asli Papua yang akan membeli senjata laras pendek dengan harga Rp250 juta namun uangnya baru tersedia sebesar Rp200 juta.

Sementara itu, saksi Kapten Dominggus Kainama bersama-sama dengan lima saksi dibantu empat masyarakat sipil merencanakan merampas nyawa para korban saat uang korban telah mencukupi untuk melakukan transaksi jual beli senjata.

Pada 22 Agustus 2022, saksi Kapten Dominggus Kainama dihubungi oleh saksi Pratu Rahmat Amin Sese dan menyampaikan transaksi jual beli senjata akan dilakukan sebentar malam di Jalan Budi Utomo Ujung.

Terdakwa I menyampaikan kepada saksi Kapten Dominggus Kainama bahwa Pratu Risky Oktav Muliawan, Pratu Rahmat Amin Sese, Pratu Robertus Putra Clinsman dan terdakwa III akan membuat benda menyerupai senjata api atau senjata palsu di bengkel las miliknya agar transaksi bisa dilakukan.

Dilanjutkannya, peran terdakwa II adalah melakukan pemukulan sebanyak dua kali kepada korban Jenius Tini yang saat itu duduk di posisi depan sebelah kiri mobil dan menusukkan sebilah pisau ke arah perut dan paha korban.

Sedangkan terdakwa I berperan melakukan pemukulan kepada korban Lemonion Nirigi serta menusuknya ke bagian kaki dan perut korban. Terdakwa III berperan membantu mengangkat korban Arnold Lokbere ke dalam mobil Avanza warna putih.

Sementara itu, terdakwa Roy berperan memotong korban dengan posisi kepala dan kedua kaki dengan mengambil korban dengan ciri-ciri kumis tipis.

Peran terdakwa II adalah membantu memasukkan potongan tubuh yang sudah dimutilasi ke dalam karung yang terdiri dari potongan kaki para korban 1 karung, potongan kepala para korban 1 karung dan potongan tubuh para korban masing-masing diisi dalam 1 karung.

Alat yang digunakan untuk melakukan itu adalah parang jenis patimura milik terdakwa Roy. Kemudian saksi Pratu Rahmat Amin Sese bersama terdakwa Roy, saksi Pratu Risky Oktav Mulyawan, saksi Pratu Robertus Putra Clinsman dan terdakwa II memasukkan semua bagian kaki para korban ke dalam 1 karung.

Setiap karung diberi lobang dan beberapa karung lain dipotong kecil dijadikan sebagai pengikat karung tersebut. Kemudian karung tersebut diisi batu yang bertujuan jika dilempar ke air maka bagian tubuh para korban tersebut akan tenggelam.

Kemudian para terdakwa dan saksi bersama-sama memasukkan bagian tubuh korban ke dalam kendaraan yang digunakan oleh para korban menuju jembatan Kampung Pigapu.

Setibanya di TKP, para terdakwa dan saksi langsung membuang jenazah keempat korban. Sedangkan saksi Kapten Dominggus Kainama dan terdakwa I bertugas menghadang kendaraan jika ada yang melintas untuk diberhentikan.

Atas perbuatannya, keempat terdakwa diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (glt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button