HUKRIM

Marjan: Terdakwa Warga Sipil Tidak Berdaya Atur Oknum TNI 

Sidang Pledoi Kasus Mutilasi

SIDANG – Suasana sidang pembacaan nota pembelaan dari penasehat hukum terdakwa pembunuhan disertai mutilasi terhadap empat warga sipil Kabupaten Nduga di Pengadilan Negeri (PN) Timika, Senin (15/5). (FOTO: GREN/TIMEX)

TIMIKA, TimeX

Sidang lanjuta kasus mutilasi terhadap empat warga sipil asal Nduga di Mimika pada 22 Agustus 2022 lalu kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Timika dengan agenda pledoi (nota pembelaan) pada Senin (15/5).

Marjen Tusang, S.H selaku Kuasa Hukum dari terdakwa I Andre Pudjianto Lee alias Jack dan terdakwa II Dul Umam alias Umam dalam nota pembelaan yang dibacakannya, menyatakan para terdakwa merupakan warga sipil yang tidak mempunyai daya untuk mengatur oknum TNI, apalagi merencanakan suatu tindak pidana yang menyebabkan pembunuhan disertai mutilasi tersebut.

“Para terdakwa adalah warga sipil biasa yang tidak bisa mengatur oknum TNI aktif, apalagi mensiati atau merencanakan suatu tindak pidana yang melanggar hukum, maka tidak terpenuhinya unsur perencanaan. Dengan demikan unsur ketidaksengajaan dalam pemeriksaan terlebih dahulu tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,” demikian diungkapkan Marjen Tusang,S.H, menjawab tuntutan Febiana Wilma Sorbu, S.H selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut penjara seumur hidup terhadap keempat terdawak, Andre Pudjianto Lee alias Jack, Dul Umam alias Umam, Rafles Lakasa alias Rafles dan Roy Marthen Howay alias Roy dalam sidang dengan agenda tuntutan pada 8 Mei 2023.

Ditambahkannya, unsur menghilangkan nyawa orang lain tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, unsur mereka yang menyuruh dan melakukan, turut serta melakukan perbuatan seperti dalam tuntutan JPU dalam pasal 55 ayat (1) kesatu KHUP pidana.

“Oleh sebab itu, kami mohon kepada Majelis Hakim Negeri Timika agar menerima nota pembelaan dari terdakwa I Andre Pudjianto Lee alias Jack dan terdakwa II Dul Umam alias Umam tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana,” katanya.

Andre Pudjianto Lee alias Jack, Dul Umam alias Umam, Rafles Lakasa alias Rafles, dan Roy Marthen Howay alias Roy merupakan terdakwa pembunuhan disertai mutilasi terhadap empat warga sipil asal Kabupaten Nduga yaitu Arnold Lokbere, Lemonion Nirigi, Irian Nirigi, Jenius Tini  di Jalan Budi Utomo Ujung pada 22 Agustus 2022 lalu telah tuntut penjara seumur hidup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Mimika, Febiana Wilma Sorbu, S.H dalam sidang pembacaan tuntutan pada 8 Mei 2023.

Kuasa hukum terdakwa Rafles Lakasa alias Rafles, Jhon Stapan Riau Lend Pasaribu mengatakan, tempat kejadian perkara atau rekonstruksi ulang perkara bertujuan untuk menemukan, mengumpulkan bukti-bukti apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu peristiwa pidana.

“Hasil resume dari rekonstruksi ulang perkara menjadi bukti yang tidak terbantahkan dalam peran masing-masing terdakwa dalam peristiwa tindak pidana. Kami sebagai kuasa hukum terdakwa berharap kepada JPU agar menjalankan tugasnya secara adil, objektif sesuai dengan bukti-bukti dan fakta,” jelasnya.

Ia juga menolak tuntutan pidana penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh JPU terhadap terdakwa Rafles yang sangat tidak sesuai dengan fakta-fakta hukum baik dalam hasil olah perkara maupun rekontruksi ulang perkara. Dimana peran terdakwa hanya mengangkat salah satu jenazah korban dan tidak tahu sama sekali perencanaan pembunuhan serta mutilasi tersebut.

Kuasa Hukum terdakwa Roy Marthen Howay alias Roy, Frengky Kambu, S.H mengatakan, tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa Roy yaitu memukul salah satu korban sebanyak satu kali.

“Terdakwa ikut terlibat seluruhnya dibawah tekanan. Terdakwa memukul dan memotong kepala salah satu korban sebanyak satu kali hingga meninggal dunia. Dengan hilangnya salah satu kepala yang dipotong oleh terdakwa sehingga tidak bisa dilakukan otopsi. Hal tersebut tidak bisa dibuktikan dalam persidangan, dan terdakwa juga bukan bagian dalam perencanaan pembunuhan tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, dalam sidang pembelaan terdakwa Rafles minta maaf kepada keluarga korban atas semua salah dan dosa yang dilakukan.

“Saya saat ini menjadi terdakwa dalam perkara pembunuhan disertai mutilasi yang menimbulkan korban meninggal dunia. Untuk itu, saya memohon maaf kepada semua keluarga korban agar keluarga bisa memaafkan saya. Selain itu juga, saya memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kebodohan dan kesalahan yang memicu saya untuk menerima ajakan dari anggota TNI aktif untuk melihat secara langsung penangkapan dan transaksi jual beli senjata,” sesalnya.

Oleh karena itu, ia memohon kepada Majelis Hakim untuk mengadilinya seadil-adilnya sesuai dengan peran saya. Tuhan Berkati.

Sidang akan dilanjutkan pada Selasa (16/5) dengan agenda Replik atau tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap pembelaan dari penasihat terdakwa.

Sidang nota pembelaan dari penasihat hukum terdakwa dipimpin langsung oleh Putu Mahendra, S.H, M.H, sebagai Hakim Ketua didampingi Muh. Khusnul F. Zainal S.H, M.H dan Riyan Ardy Pratama, S.H, M.H sebagai Hakim Anggota. Dan Febiana Wilma Sorbu, S.H selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Mimika.

Dalam sidang tersebut, terdakwa Andre Pudjianto Lee alias Jack dan terdakwa Dul Umam alias Umam didampingi kuasa hukum Supriyanto Teguh Sukma, S.H dan Marjen Tusang, S.H. Sedangkan terdakwa Rafles Lakasa alias Rafles didampingi kuasa hukum Jhon Stapan Riau Lend Pasaribu, S.H dan Frengky Kambu, S.H. (glt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button